Lewat Teknologi RAS Akuaponik UGM, KWT Amrih Rahayu Wujudkan Kemandirian Pangan
- 17 Sep 2026 12:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta- Peran aktif Kelompok Wanita Tani (KWT) Amrih Rahayu di Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, kini semakin kuat dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Melalui pendampingan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), KWT Amrih Rahayu menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) yang dipadukan dengan sistem akuaponik untuk menggenjot produktivitas pangan di wilayah mereka.
Inovasi ini menghadirkan dua unit instalasi RAS akuaponik yang mencakup total empat kolam pemeliharaan ikan. Pada unit pertama, dibudidayakan ikan lele dengan kapasitas tebar sekitar 800 ekor, sementara unit kedua menampung 600 ekor ikan nila. Menariknya, sistem ini tidak hanya berfokus pada perikanan, tetapi juga diintegrasikan dengan penanaman sayuran hijau seperti pakcoy, selada air, dan bayam dalam satu instalasi yang sama.
"Konsep yang kami terapkan tidak hanya berfokus pada produksi ikan, tetapi juga memanfaatkan limbah air dalam sistem budidaya untuk mendukung pertumbuhan sayuran hijau. Dengan demikian, satu instalasi dapat menghasilkan ikan dan sayuran secara bersamaan," ujar Ketua Tim UGM, Dr drh Artina Prastiwi, MSc.
Dari sisi teknis, anggota tim pengabdian dari Fakultas Perikanan UGM, Dr Desy Putri Handayani, MSc., menjelaskan bahwa teknologi RAS bekerja dengan cara mensirkulasikan kembali air kolam melalui rangkaian filtrasi khusus. Proses ini berfungsi menyaring kotoran dan menjaga kualitas air sebelum dialirkan kembali, sehingga pemanfaatannya jauh lebih efisien.

"Dalam sistem RAS, air dari kolam budidaya tidak langsung dibuang, tetapi dialirkan melalui rangkaian filtrasi untuk menyaring kotoran dan menjaga kualitas air sebelum kembali ke kolam. Dengan sistem sirkulasi tersebut, penggunaan air menjadi lebih hemat karena air tidak perlu sering diganti dan dapat digunakan hingga masa panen," kata Desy kepada RRI, Selasa 15 September 2026.
Pendekatan berbasis circular farming ini juga didukung penuh oleh anggota tim dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. Yudhi Ratna Nugraheni, MSc, PhD. Ia menekankan, program ini dirancang agar para anggota KWT Amrih Rahayu memiliki kemandirian penuh, bukan sekadar menerima bantuan alat semata.
"Kami ingin mengembangkan model budidaya yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya. RAS akuaponik-budikdamber ini kami kembangkan sebagai bagian dari konsep circular farming yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat di Jatisarono," ujar Yudhi.
Melalui penerapan teknologi tepat guna ini, KWT Amrih Rahayu diharapkan mampu menjadi motor penggerak terwujudnya Desa Mandiri Pangan Berkelanjutan di Kulon Progo. Langkah ini sekaligus membuktikan bagaimana sinergi antara dunia akademis dan pemberdayaan masyarakat mampu membuka peluang usaha pangan mandiri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....