Bukan Sekadar Pembagian Makanan, Budi Waljiman Dukung MBG Edukasi Gizi
- 28 Agt 2026 17:55 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak hanya berfokus pada distribusi pangan semata, tetapi juga bergerak menjadi sarana edukasi pemenuhan gizi dan kebiasaan hidup sehat bagi masyarakat. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Budi Waljiman.
Dukungan tersebut disampaikan seiring dengan dibukanya pelaksanaan edukasi gizi secara serentak oleh seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-DIY pada 26–28 Agustus 2026. Menurut Budi Waljiman, edukasi gizi merupakan sarana penting agar dampak Program MBG terasa lebih luas dan berkelanjutan.
“Program MBG harus dipahami sebagai investasi untuk membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Makanan yang diberikan bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar penerima manfaat memahami pentingnya gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Jumat, 28 Agustus 2026.
Budi Waljiman menilai, pemberian makanan bergizi perlu disertai dengan pengetahuan yang memadai. Dengan pemahaman tersebut, penerima manfaat diharapkan mampu mengenali makanan yang sehat, menjaga pola makan, serta menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Edukasi memperkuat tujuan MBG
Koordinator Regional Badan Gizi Nasional DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko menyampaikan, edukasi gizi merupakan bagian penting dan strategis dalam penyelenggaraan Program MBG. Edukasi ini ditujukan kepada ekosistem penerima manfaat, termasuk peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, serta pihak lain yang terlibat dalam pelaksanaan program.
Menurut Gagat, MBG bukan sekadar kegiatan menerima dan mengonsumsi makanan. Masyarakat juga perlu memahami alasan makanan tersebut diberikan, cara memilih makanan yang baik, serta penerapan prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan hal tersebut, Budi Waljiman berpandangan bahwa keberhasilan MBG tidak semata-mata diukur dari jumlah makanan yang diproduksi dan didistribusikan. Keberhasilan program juga dapat dilihat dari perubahan pengetahuan, sikap, dan kebiasaan penerima manfaat dalam memilih serta mengonsumsi makanan.
“Ketika penerima manfaat memahami kandungan dan manfaat makanan yang dikonsumsi, maka dampak Program MBG akan menjadi lebih besar. Pengetahuan itu dapat diterapkan secara mandiri, bahkan setelah mereka tidak lagi berada dalam kegiatan makan bersama,” katanya, menjelaskan.
Peran strategis SPPG
Pelaksanaan edukasi gizi secara serentak juga memperkuat fungsi SPPG sebagai unit pelayanan publik. SPPG tidak hanya berperan dalam memproduksi dan mendistribusikan makanan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi.
Budi menilai, penguatan fungsi tersebut perlu dilakukan secara konsisten. Setiap makanan yang disalurkan melalui MBG dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan kandungan gizi, manfaat bahan pangan, pentingnya kebersihan makanan, serta cara menjaga keamanan pangan.
Memberikan makanan bergizi tanpa memberikan pemahaman mengenai nilai gizi makanan tersebut, menurutnya, merupakan upaya yang belum sepenuhnya lengkap. Oleh karena itu, edukasi perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Program MBG.
Selain itu, edukasi gizi juga dapat mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik di sekolah dapat dibagikan kembali kepada orang tua dan anggota keluarga, sehingga kebiasaan makan sehat dapat diterapkan di lingkungan rumah.
Budi Waljiman mengharapkan, pelaksanaan edukasi gizi di seluruh SPPG DIY dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mendukung Program MBG melalui partisipasi aktif, pengawasan, serta penerapan pola hidup sehat.
Menurut Budi, keberhasilan MBG membutuhkan kerja sama antara pemerintah, SPPG, sekolah, keluarga, tenaga pendidik, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai tujuan dan mampu menjangkau penerima manfaat secara optimal.
“Dukungan terhadap MBG bukan hanya ditunjukkan dengan menerima makanan yang dibagikan, tetapi juga dengan menjaga kualitas pelaksanaan program dan menerapkan pengetahuan gizi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, MBG dapat benar-benar mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif,” ucapnya.
Melalui edukasi gizi yang dilaksanakan pada 26–28 Agustus 2026, Program MBG di DIY diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Program ini juga dapat menjadi sarana pembentukan kebiasaan makan sehat, peningkatan kesadaran masyarakat, serta penguatan budaya hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....