KWT Ngudi Rejeki Dorong Kemandirian Pangan di Kwarasan Kulon

  • 07 Agt 2026 16:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki yang berlokasi di Padukuhan Kwarasan Kulon, Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat setempat. Melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan kelompok, para ibu rumah tangga aktif membudidayakan beragam jenis sayuran hingga tanaman obat keluarga (toga).

Dukuh Kwarasan Kulon, Nita Febri Avisha, menyampaikan apresiasinya terhadap dedikasi serta kerja keras para anggota KWT dalam mengelola lahan pertanian bersama tersebut. Ia menyebut bahwa kegiatan warga masyarakat ini sangat positif dan disambut penuh semangat.

"Kegiatan warga masyarakat ini cukup antusias mengembangkan agar ada hasilnya dan bisa dipraktekkan juga di rumah masing-masing," ujar Dukuh Kwarasan Kulon, Nita Febri Avisha.

Ketua KWT Ngudi Rejeki, Rina Wahyuni, menjelaskan bahwa kelompok yang berdiri sejak tahun 2015 ini beranggotakan perwakilan dari tujuh RT di Padukuhan Kwarasan Kulon dengan total sekitar 70 anggota, di mana puluhan di antaranya sangat aktif mengelola lahan harian.

"Untuk saat ini kami menanam sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, timun, pare, terong, hingga kacang panjang. Selain itu, kami juga membudidayakan toga seperti temulawak dan kunyit yang sudah panen dan kami olah menjadi produk olahan seperti jamu," kata Rina.

Rina menambahkan, hasil panen sayuran—seperti kangkung yang memiliki masa panen singkat sekitar 25 hari—sebagian besar dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga sekitar serta dititipkan ke warung-warung lokal.

saat ini kami menanam sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, timun, pare, terong, hingga kacang panjang. Selain itu, kami juga membudidayakan toga seperti temulawak dan kunyit yang sudah panen dan kami olah menjadi produk olahan seperti jamu. (Foto:RRI/Titik)

Dalam mengelola lahan, KWT Ngudi Rejeki menerapkan sistem piket harian yang melibatkan 5 hingga 8 anggota per kelompok untuk penyiraman, perawatan, hingga penanganan hama. Kelompok ini juga mendapatkan pendampingan teknis dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Nglipar, mulai dari pengukuran pH tanah hingga penerapan pengendalian hama secara alami, seperti menanam bunga kenikir untuk mengendalikan hama keriting pada cabai.

Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi para anggota kelompok adalah keterbatasan pasokan air saat musim kemarau. Warga harus menyedot air dari sungai terdekat dan menampungnya untuk kebutuhan penyiraman harian. Selain itu, akses terhadap pupuk bersubsidi bagi KWT juga diharapkan dapat terus ditingkatkan agar sebanding dengan kelompok tani utama.

Sementara itu, salah satu anggota KWT Ngudi Rejeki, Ismiyati, mengungkapkan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kunci utama keberlangsungan kegiatan ini.

"Kami membagi jadwal piket setiap sore. Selain memanfaatkan waktu luang dan menjaga kerukunan antarwarga, keterampilan bercocok tanam yang didapat di kelompok juga kami terapkan di pekarangan rumah masing-masing," kata Ismiyati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....