Fakultas Pertanian UMY Kolaborasi dengan IPB Kembangkan Aplikasi "MyIndah Diet"
- 30 Jun 2026 15:24 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kolaborasi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Institut Pertanian Bogor (IPB), Queensland University, dan BRIN mengembangkan aplikasi digital MyIndah Diet sebagai upaya mempercepat transformasi digital di sektor pertanian. Aplikasi ini dirancang untuk membantu petani memperoleh informasi budidaya sekaligus mendukung pemasaran hasil pertanian, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UMY, Dinda Aslam Nurul Hida, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa aplikasi MyIndah Diet memiliki dua mode pengguna, yakni untuk petani dan konsumen. Pada sisi petani, aplikasi menyediakan informasi cuaca terkini, panduan budidaya, hingga identifikasi hama, penyakit, dan rekomendasi penanganannya agar petani dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat.
"Aplikasi ini bisa digunakan oleh dua mode, yaitu mode petani dan mode konsumen. Untuk petani, tersedia informasi cuaca terkini, budidaya, hama, penyakit hingga rekomendasi pestisida. Jadi petani bisa langsung mengetahui permasalahan pada tanamannya melalui aplikasi," katanya saat menjadi narasumber pada program Beranda Astacita di Pro 1 RRI Yogyakarta, pada 19 Juni 2026 lalu.
Menurut Dinda, pemanfaatan teknologi digital tidak berhenti pada proses budidaya, tetapi juga mencakup pengolahan hingga pemasaran hasil pertanian. Melalui digitalisasi, petani didorong untuk meningkatkan nilai jual produknya melalui pengemasan, branding, storytelling, hingga pemasaran di media sosial dan marketplace. Langkah tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah dibanding hanya menjual hasil panen dalam kondisi segar.
"Digitalisasi bukan hanya di budidayanya saja, tetapi sampai ke hilir. Petani bisa belajar mengemas produk, membuat branding, storytelling, kemudian memasarkannya melalui media sosial bahkan marketplace sehingga nilai jual hasil pertaniannya meningkat," ucapnya.
Berdasarkan sejumlah survei yang dilakukan tim peneliti, sebagian besar petani saat ini telah memanfaatkan telepon pintar untuk berkomunikasi melalui WhatsApp dan mencari informasi pertanian melalui internet. Namun, literasi digital masih menjadi tantangan, terutama bagi petani berusia lanjut. Karena itu, tim pengembang berupaya menghadirkan antarmuka aplikasi yang sederhana agar mudah digunakan oleh seluruh kalangan petani. Saat ini aplikasi masih dalam tahap uji coba dan validasi di sejumlah daerah, termasuk Sleman dan Kabupaten Bogor, sebelum resmi diluncurkan secara gratis.
"Saya optimistis petani kita siap menerima transformasi digital. Memang ada tantangan, terutama pada literasi digital, sehingga sekarang kami masih mengembangkan aplikasi agar benar-benar mudah dipahami dan digunakan oleh petani. Harapannya setelah diluncurkan nanti, aplikasi ini bisa dimanfaatkan secara luas dan diunduh secara gratis," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....