Geliat Ekonomi Hijau Aktiva Jaya Mampu Hasilkan Panen Bernilai Juta Rupiah

  • 09 Apr 2026 15:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pengembangan sektor pertanian perkotaan atau urban farming di wilayah Sleman terus menunjukkan potensi yang signifikan melalui pengelolaan lahan terbatas menjadi sumber pendapatan produktif. Salah satu unit percontohan yang berhasil memaksimalkan potensi ini adalah Green House Hidroponik Bumkal Aktiva Jaya yang terletak di Caturtunggal, Depok, Sleman.

Dalam operasional harian, unit hidroponik ini mengedepankan manajemen bisnis yang terukur untuk mencapai hasil maksimal. Penanggung jawab sekaligus Manajer Hidroponik Bumkal Aktiva Jaya, Siti Suratini, mengungkapkan, dengan sistem yang tepat, keuntungan yang diraih bisa mencapai sepuluh kali lipat dari modal operasional awal.

"Saya setiap pagi bertugas di sini untuk memantau tanaman. Sebagai gambaran, untuk satu meja selada dengan modal sekitar 17 ribu rupiah, kita bisa meraih keuntungan sekitar 200 ribu rupiah. Kita kan ada 14 meja ya kebetulan di hidro kita, jadi bisa dikalikan sendiri," ujar Siti kepada RRI, Kamis, 2 April pekan lalu.

Keberhasilan panen sangat bergantung pada pengecekan teknis harian, terutama terkait kadar nutrisi AB Mix dan tingkat keasaman atau pH air. Siti menekankan bahwa setiap jenis sayuran memiliki karakteristik kebutuhan pH yang berbeda untuk menjaga kualitas daunnya agar tetap segar dan tidak rusak.

"Contohnya tanaman kita adalah selada, pakcoy, kailan, pagoda juga ada. Kita juga panen bayam dan kangkung, semuanya sudah alhamdulillah habis kemarin," kata Siti ketika diwawancarai rri.co.id.

Selain masalah nutrisi, pengelola juga harus waspada terhadap tantangan pertumbuhan lumut di instalasi sirkulasi, terutama saat cuaca panas menyengat yang memicu populasi lumut meningkat. Penggunaan sistem sirkulasi air yang bergantung pada aliran listrik juga menjadi faktor krusial, jika aliran listrik terputus dan air berhenti mengalir, tanaman berisiko layu hingga mati dalam waktu singkat.

Media rockwool

Keberhasilan produksi di meja pembesaran diawali dari proses pembibitan yang menggunakan media khusus bernama rockwool. “Media ini dipilih karena teksturnya yang mirip busa namun lebih alami, sehingga memudahkan penetrasi akar tanaman serta memastikan penyerapan air dan nutrisi berjalan maksimal dibandingkan media lainnya,” ujarnya.

Proses penanaman dimulai dengan tahap peram selama tiga hari hingga benih berkecambah. Setelah muncul akar kecil dalam waktu satu hingga dua hari, benih tersebut segera dipindahkan ke media rockwool untuk memasuki fase pertumbuhan awal. Petugas di area pembibitan memastikan bahwa setiap benih mendapatkan kelembapan yang cukup sebelum dipindahkan ke instalasi utama.

Khusus untuk tanaman selada, bibit akan dirawat di area pembibitan selama kurang lebih 10 hari hingga muncul tunas dan daun yang cukup kuat. Setelah fase tersebut terlewati, bibit baru dipindahkan ke meja pembesaran dengan sistem air mengalir atau sirkulasi tertutup.

Ada pun durasi tanam total hingga siap panen sangat bervariasi tergantung pada jenis komoditasnya. Tanaman kangkung menjadi yang tercepat dengan waktu hanya 17 hari, sementara pakcoy membutuhkan waktu 30 hari, dan selada berkisar antara 35-45 hari.

Dengan manajemen masa tanam yang terjaga secara berkala, unit hidroponik Bumkal Aktiva Jaya kini mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulannya dan menjadi bukti nyata keberhasilan kemandirian pangan di tingkat kalurahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....