Ancaman Krisis Minyak dan Peluang Energi Terbarukan

  • 31 Mar 2026 09:36 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID., Yogyakarta - Di tengah hiruk pikuk aktivitas manusia yang tak pernah lepas dari energi, ancaman krisis minyak perlahan menjadi bayang-bayang yang semakin nyata. Ditambah pula untuk saat ini, perang masih berkecamuk di Timur Tengah, di mana merupakan sumber impor minyak untuk Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Peneliti dari Pusat Studi Energi Bagi Ahmad Rahma Wardhana, S.T., M.Sc. mengatakan, keadaan Indonesia dulu sebelum tahun 2004 adalah sebagai nett oil importer, tapi sejak 2004 keadaan sudah berbeda, jumlah produksi tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. “Per tahun lalu, rata-rata kita butuh 1,6-1,7 juta barel minyak per hari, sedangkan produksinya hanya 600 ribu barel per hari. Kita butuh sekitar 950 ribu barel per hari,’’ katanya saat menjadi narasumber dalam acara Beranda Astacita di Pro1 RRI Yogyakarta dengan topik “Ancaman Krisis Minyak dan Peluang Energi Terbarukan” pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Menurutnya jika tidak ada pasokan lagi, cadangan minyak Indonesia hanya mampu bertahan 30 hari. Hal ini tentu menjadi momentum penting untuk beralih ke energi terbarukan.

“Energi terbarukan itu ada 2 kelompok besar pada sistem energi kita, yang pertama dalam bentuk listrik, yang kedua adalah biofuel, bahan bakar dari bio, dari makhluk hidup,’’ ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini listrik di sistem energi Indonesia, bahan bakunya adalah dari batubara, sedangkan untuk biofuel, bahan baku untuk solar adalah campuran dari biofuel kelapa sawit. Hal tersebut ternyata sejauh ini dinilai signifikan mampu mengurangi impor solar. Namun, seiring berkembangnya biofuel dengan bahan baku kelapa sawit ini, yang terjadi justru merusak lingkungan.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan tentang hasil riset Pusat Studi Energi UGM Tahun 2026, dengan kesimpulan yang digunakan untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait produksi solar dari kelapa sawit. “20 Juta hektar yang dipakai untuk menaikkan produksi biofuel, jangan menggunakan alih fungsi lahan yang seharusnya tidak dipakai untuk produksi biofuel,’’ ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transisi energi perlu dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan, tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mempertimbangkan dampak lingkungan dan tata kelola lahan.

Di penutup perbincangan, Ahmad Rahma Wardhana menegaskan bahwa transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang tak bisa ditunda. Peralihan menuju energi terbarukan tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Upaya ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....