Replikasi Padi Galon "JUL 14" Dongkrak Ketahanan Pangan
- 24 Mar 2026 19:42 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Alih fungsi lahan pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menjadi tantangan nyata bagi sektor ketahanan pangan. Pesatnya pembangunan infrastruktur, pemukiman penduduk, dan perluasan kawasan komersial perlahan namun pasti mulai menggerus keberadaan lahan pertanian produktif. Kondisi ini menuntut adanya terobosan baru agar produktivitas pangan tidak ikut merosot seiring dengan hilangnya area garapan konvensional.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, tidak menampik fenomena krisis lahan tersebut. Saat meninjau panen perdana Padi Galon "JUL 14" di area sekitar rumah makan Gorbacep, Jalan Mahakam, Balecatur, Sleman, Selasa 24 Maret 2026, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan catatan pemerintah, luasan sawah di DIY mengalami tren penurunan yang cukup signifikan.
"Kalau berkaitan dengan Luas Baku Sawah, tentu itu sudah ada aturan dari pemerintah, dan secara umum memang luas lahan di DIY semakin lama semakin menyempit. Penurunan lahan kurang lebih dari lima tahun terakhir ini cukup banyak, hampir 1.800 hektare," kata Aris.
Menghadapi hilangnya ribuan hektare lahan sawah tersebut, pemerintah daerah terus berupaya merumuskan strategi jitu. Mempertahankan sisa lahan sawah melalui regulasi perlindungan adalah satu hal, namun meningkatkan produktivitas di lahan yang sempit adalah strategi lain yang tak kalah penting untuk menjaga kesejahteraan petani.
Oleh karena itu, Aris sangat mengapresiasi langkah konkret masyarakat dan pihak akademisi yang berani berinovasi keluar dari kebiasaan bertani konvensional. Salah satunya adalah budidaya padi varietas Uji Lapangan 14 (JUL 14) yang memanfaatkan limbah galon air mineral bekas sebagai media tanam utama. Inovasi padi galon beserta benihnya ini diinisiasi oleh Prof. Harry Abdussalam dari Bengkel Bumi, yang secara langsung mendampingi para petani di kawasan Omah Petani yang diprakarsai oleh Ken Tri Basuki.
"Kami dari sisi pemerintah daerah tentu menyambut baik adanya uji lapangan JUL 14 ini. Harapan kita memang semakin banyak padi yang sifatnya bagus, baik itu genjah, kemudian malainya banyak, dan harapannya juga masyarakat mendapatkan produktivitas semakin tinggi," ujarnya.
Meski metode penanaman padi di dalam galon bekas yang dicat hitam ini menunjukkan hasil memuaskan pada panen perdananya di Balecatur, Aris mengingatkan bahwa budidaya dengan sistem wadah tertutup memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan hamparan sawah terbuka yang memiliki ekosistem alaminya sendiri, tanaman di dalam galon menuntut pengawasan yang jauh lebih cermat, terutama dalam mengatur sirkulasi air dan asupan nutrisi organik.
"Apalagi pada saat ini ternyata padi dipergunakan dengan menggunakan galon. Tentu dengan menggunakan galon ini membutuhkan ekstra untuk pengamatan, dan harapannya memang hasilnya pun juga bisa memuaskan secara konsisten," kata Aris.
Lebih jauh, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY ini menyoroti pentingnya tahapan validasi ilmiah sebelum sistem budidaya Padi Galon ini direkomendasikan secara massal kepada kelompok-kelompok tani di seluruh kabupaten dan kota di DIY. Sebuah varietas atau metode tanam yang baru, menurutnya, harus terbukti tahan banting di berbagai kondisi cuaca dan kualitas air yang berbeda-beda.
"Bagusnya itu apabila diuji multi-lokasi juga menghasilkan hal yang sama. Jadi bukan bagus hanya di satu tempat saja, tapi bagaimana diuji multi-lokasi. Karena kalau di satu tempat, yang kita khawatirkan hanya karena kejadian tertentu dirawat dengan bagus sekali sehingga menghasilkan (panen) yang luar biasa," katanya.
Pemerintah DIY berharap, keberhasilan panen perdana di area lahan terbatas ini bisa menjadi pijakan awal untuk penelitian lanjutan. Jika Padi Galon JUL 14 terbukti adaptif dan produktif di berbagai wilayah uji coba, inovasi ini berpotensi besar menjadi ujung tombak pertanian perkotaan di masa depan. Aris juga berharap ke depannya akan semakin banyak bermunculan tokoh-tokoh seperti Prof. Harry Abdussalam dan Ken Tri Basuki yang selalu mengajak petani untuk terus berinovasi demi mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....