Padi Galon "JUL 14", Inovasi Bertani Bersih Solusi Ketahanan Pangan di Lahan Sempit
- 24 Mar 2026 19:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah fenomena semakin menyempitnya lahan baku sawah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), inovasi di sektor pertanian terus bermunculan. Salah satu terobosan unik yang kini tengah diuji coba dan memasuki masa panen perdana pada Selasa, 24 Maret 2026, adalah penanaman padi varietas Uji Lapangan 14 (JUL 14) menggunakan media galon air mineral bekas di kawasan Sumber, Balecatur, Kabupaten Sleman.
Inovasi Padi Galon ini diinisiasi oleh Prof. Harry Abdussalam dari Bengkel Bumi, yang kemudian dilaksanakan di lapangan oleh Laksamana Muda TNI (Purn.) Ken Tri Basuki. Ken Tri Basuki menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari keprihatinannya melihat beban berat petani pasca-panen. Pengolahan lahan konvensional dinilai memakan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.
"Awal mulanya itu kita sering melihat petani-petani saat ini itu sepertinya kesulitan terkait dengan pematangan lahan. Jadi habis panen itu pada proses pematangan lahan membutuhkan sarana prasarana yang sangat menyulitkan karena harus ada traktor, dibajak. Saya memiliki perencanaan, bagaimana kalau seandainya padi ini saya menggunakan sarana yang lain, yaitu galon limbah mineral," kata Ken Tri Basuki saat ditemui di lokasi panen perdana di area sekitar rumah makan Gorbacep, Jalan Mahakam, Balecatur, Sleman, Selasa 24 Maret 2026.
Selain menekan biaya pengolahan lahan secara signifikan, metode galon ini dirancang untuk mengubah stigma bertani di kalangan generasi muda. Ken Tri Basuki merancang sistem sawah buatan ini agar bersih dan terintegrasi.
"Tidak perlu kita becek-becek. Seperti saat ini, kita tidak perlu becek-becek karena ada di sini. Ini ada kolam ikan, airnya mengalir dari sini. Kemudian limbah galon ini saya potong dua pertiga di atas, atasnya juga saya gunakan untuk menanam sayur-sayuran," ujarnya.
Ia berharap kemudahan ini dapat menggugah anak muda untuk kembali melirik sektor pertanian demi menjaga ketahanan pangan.
Secara teknis, budidaya padi galon ini juga mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan dan bebas bahan kimia. Pengelola Tanaman Padi, Ratri Sulistyo, mengungkapkan bahwa padi varietas JUL 14 yang dipanen tersebut telah memasuki usia 100 hari. Kawasan yang berdekatan dengan area Gorbacep tersebut kini disulap dengan tata letak sekitar 2.000 galon bekas yang tersusun rapi layaknya hamparan sawah.
"Untuk medianya, kita pakai tanah, terus kotoran hewan, sama arang sekam. Terus kita rendam sekitar seminggu biar menjadi lumpur, baru kita tanami bibit padinya. Satu galon itu tiga bibit, dan satu rumpun ini bisa menjadi 20 sampai 30-an bulir," kata Ratri.
Terkait perawatan, Ratri memastikan seluruhnya menggunakan bahan organik. Ia menjelaskan bahwa pemupukan rutin dilakukan dengan menyemprotkan pupuk organik cair setiap seminggu sekali, tanpa melibatkan bahan kimia sama sekali.
Keberhasilan budidaya padi galon tanpa bahan kimia ini tidak lepas dari peran Prof. Harry Abdussalam dari Bengkel Bumi sebagai inisiator. Seluruh keilmuan terkait pertanian organik, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan penggunaan pupuk organik, hingga pembasmi hama organik, murni berasal dari bimbingan beliau sehingga tanaman padi galon ini benar-benar bebas dari unsur kimia.
Ada yang unik dari tampilan hamparan galon-galon tersebut, yakni bagian luarnya yang secara seragam dicat berwarna hitam. Hal ini ternyata bukan tanpa alasan.
"Dicat luar hitam itu untuk antisipasi jamur atau lumut. Kalau kena sinar matahari terik kan biasanya bisa menimbulkan jamur," kata Ratri.
Di sisi lain, Ken Tri Basuki menambahkan bahwa warna hitam tersebut juga terbukti efektif menangkal hama pengerat. "Sampai dengan saat ini usia 99 hari, tikus tidak naik. Tidak berani dengan warna hitam ini. Padahal di sini sawah semua," katanya.
Inovasi pemanfaatan galon bekas ini turut mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, menyambut baik uji lapangan tersebut. Ia menilai inovasi ini sangat relevan untuk menyiasati luas lahan baku sawah di DIY yang kian menyusut.
"Kami dari sisi pemerintah daerah tentu menyambut baik adanya uji lapangan JUL 14 ini. Apalagi pada saat ini ternyata padi dipergunakan dengan menggunakan galon, tentu membutuhkan ekstra untuk pengamatan, dan harapannya hasilnya pun juga bisa memuaskan," ujar Aris.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....