Perempuan Sebagai Penjaga dan Pengembang Warisan Luhur
- 06 Mar 2026 15:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Diskusi mengenai eksistensi perempuan sebagai pilar pelestarian budaya menghadirkan dua sosok inspiratif, Puteri Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026, Almas Azzahra serta seorang pelukis dan pendidik, Susanti, S.Pd., M.Pd, dalam acara siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta Jumat 6 Maret 2026.
Kedua Narasumber memandang perempuan sebagai pilar utama sekaligus pendidik pertama yang Menanamkan nilai-nilai budi pekerti dalam lingkungan keluarga dan sosial.
Almas Puteri Indonesia DIY 2026 menjelaskan bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk menanggalkan identitas diri; sebaliknya, modernitas harus menjadi sarana untuk memperkokoh akar budaya agar mampu bersaing dengan terhormat di level global.
”saya menaruh perhatian besar pada pelestarian wastra, terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa nilai sebuah batik terletak pada proses penggunaan malam atau lilin, yang secara esensial berbeda dengan kain bermotif batik hasil produksi mesin,” kata Almas.
"Kita harus bisa mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tidak boleh melupakan akar budaya kita sendiri. Satu hal yang harus terus kita gaungkan adalah pemahaman bahwa yang disebut batik adalah proses penggunaan malam, bukan sekadar kain bermotif batik," ujar Almas Azzahra.
Di sisi lain, Susanti, S.Pd., M.Pd membagikan kontribusinya dalam merawat identitas bangsa melalui dunia pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama. Ia menerapkan berbagai inovasi untuk mendekatkan siswa dengan budaya, seperti penggunaan sistem presensi berbasis barcode yang berisi soal-soal angka Jawa. Selain itu, ia juga mengenalkan desain ornamen khas Yogyakarta serta teknik membatik tulis yang sederhana agar para siswa memiliki rasa bangga dan tidak menganggap warisan leluhur sebagai sesuatu yang kuno.
Susanti S.Pd., M.Pd menegaskan pentingnya menanamkan nilai tersebut sejak dini,
“Warisan budaya itu tidak hanya berbentuk budaya, tapi berbentuk juga karakter, nilai-nilai budaya yang harus kita rawat sejak dini karena itu merupakan identitas bangsa," ujarnya.
Keterlibatan perempuan dalam menjaga warisan budaya merupakan bentuk kepemimpinan yang menggabungkan keberanian bersuara dengan kelembutan hati. Dengan kreativitas dan ketangguhan, perempuan berperan sebagai arsitek peradaban yang memastikan nilai-nilai budaya tetap menjadi fondasi kuat di tengah derasnya arus globalisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....