TBM Helikopter Gubuk Maos Hadirkan Literasi Inklusif
- 23 Feb 2026 07:54 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta--Isu disabilitas sering kali masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, di mana kelompok ini kerap dianggap sebagai pihak yang hanya membutuhkan bantuan tanpa memiliki daya. Namun, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Helikopter Gubuk Maos hadir untuk mematahkan stigma tersebut melalui ruang literasi yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas di wilayah Sedayu, Bantul.
Dalam bincang-bincang hangat di acara “Kawruh" RRI Programa 4 Yogyakarta Jumat, 29 Februari 2026, Ketua TBM Helikopter Gubuk Maos, Maria Tri Suhartini, mengungkapkan bahwa misi utama TBM ini adalah mengembalikan hak dasar setiap manusia untuk mengakses ilmu pengetahuan tanpa terbentur keterbatasan fisik maupun mental.
Didirikan sejak tahun 2010, TBM yang terletak di Dusun Gubuk, Argosari ini tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku. Bagi Maria, indikator keberhasilan sebuah ruang literasi ramah disabilitas bukanlah seberapa banyak buku yang dipinjam, melainkan seberapa besar perubahan karakter penggunanya.
"Target kami adalah bagaimana teman-teman disabilitas tidak menjadi objek lagi, tapi menjadi subjek. Kami bangga saat ini mereka mulai menyuarakan hak-haknya sendiri. Misalnya, ketika bertemu pejabat publik, mereka sudah berani meminta akses Juru Bahasa Isyarat di layanan kesehatan," ujar Maria.
Kini, banyak anggota TBM yang dulunya tidak percaya diri telah bertransformasi menjadi pemimpin kelompok, narasumber, hingga moderator dalam berbagai kegiatan.
Untuk memastikan setiap anggota dapat menikmati bacaan dengan nyaman, TBM Helikopter Gubuk Maos menyediakan berbagai fasilitas pendukung yang terintegrasi dalam layanan mereka. Pihak pengelola menyediakan koleksi buku cetak Braille serta file digital sebagai jembatan informasi bagi teman-teman tuna netra. Bagi koleksi yang belum tersedia dalam format khusus, TBM menyiapkan relawan yang bertugas membacakan isi buku secara langsung sebagai pendamping literasi. Selain itu, akses fisik bangunan telah didesain sedemikian rupa dengan menyediakan fasilitas ram guna memudahkan mobilisasi pengguna kursi roda. Tak hanya fokus pada bacaan, para anggota juga dibekali dengan berbagai pelatihan khusus, mulai dari literasi digital dan keamanan bermedia sosial hingga keterampilan praktis seperti memasak dan menjahit untuk menunjang kemandirian ekonomi mereka.
Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, Maria menekankan bahwa dukungan masyarakat tidak selalu harus berbentuk materi besar. Sering kali, hambatan terbesar bagi difabel adalah rasa minder karena lingkungan yang terasa asing.
"Langkah kecilnya mulai dari menyapa. Sapaan itu sangat penting untuk 'nguwongke' (memanusiakan) teman-teman disabilitas. Jangan fokus pada kekurangannya, tapi sapalah seperti teman biasa agar mereka merasa setara," kata Maria kepada para pendengar.
Keberlanjutan program TBM ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor, mulai dari tingkat Kalurahan hingga kementerian. Dukungan dari Badan Bahasa Kemendikbudristek dalam program Bulan Literasi 2025 menjadi bukti bahwa gerakan literasi inklusif mulai mendapat perhatian serius di tingkat nasional. Dengan semangat "tidak boleh ada seorang pun yang tertinggal", TBM Helikopter Gubuk Maos berharap ekosistem literasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terus berkembang menjadi ruang yang aman bagi semua orang untuk bertumbuh
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....