Toleransi dan Kebhinekaan sebagai Investasi Karakter Generasi Tangguh

  • 13 Feb 2026 15:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menghadapi dinamika sosial yang kian kompleks, pemahaman mendalam mengenai moderasi dan kebersamaan menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar lagi bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemanfaatan nilai toleransi dan kebinekaan kini harus dipandang sebagai investasi karakter yang krusial, terutama guna membentuk generasi yang tangguh di tengah gempuran polarisasi serta degradasi moral yang marak terjadi di ruang digital.

Hal tersebut menjadi benang merah dalam program dialog "Kawruh" yang disiarkan oleh RRI Pro4 Yogyakarta Jumat, 13 Februari 2026, dengan narasumber Dr. Ahmad Nasir Ari Bowo, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Dalam diskusinya, Dr. Ahmad Nasir membedah bahwa eksistensi bangsa ini tidak lepas dari sejarah panjang konsensus para pendahulu yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928.

Nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi aktif yang harus terus diinternalisasi dalam kehidupan berbangsa saat ini. Secara ideologis, toleransi merupakan napas utama dari sila-sila Pancasila, di mana keyakinan beragama (Sila 1) dan kemanusiaan yang adil (Sila 2) seharusnya bermuara pada persatuan nasional (Sila 3). Jika fondasi ini goyah, maka cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun akan sulit dicapai.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) ibarat pisau bermata dua yang jika tidak dibarengi dengan literasi digital yang mumpuni, justru akan memperlebar celah perpecahan. Ruang-ruang diskusi di media sosial kini sering kali terjebak dalam pusaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian yang memicu sentimen kelompok secara berlebihan. Dr. Ahmad Nasir mengamati bahwa banyak individu saat ini cenderung langsung menyimpulkan informasi berdasarkan emosi tanpa adanya proses verifikasi yang matang.

Guna membentengi hal tersebut, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan dunia pendidikan, lingkungan keluarga, hingga komunitas masyarakat. Di level universitas, pengajaran Pancasila didorong untuk menjadi ruang interaksi yang nyata agar mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat saling mengenal dan bekerja sama. Sementara itu, di tingkat masyarakat, keterlibatan aktif dalam organisasi seperti Karang Taruna dianggap efektif untuk menyosialisasikan pentingnya empati dan kesadaran hidup bersama.

Terkait urgensi nilai-nilai tersebut, Ahmad Nasir Ari Bowo menekankan tentang toleransi. "Toleransi ini bukan hanya sekadar wacana, tetapi sebuah keharusan. Kalau lebih dalam lagi, toleransi itu harga mati untuk eksistensi sebuah bangsa dan negara," ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti peran penting instrumen negara dan lingkungan terdekat dalam menjaga marwah keberagaman. "Toleransi dan kebinekaan ini sebagai landasan moral dalam mencapai tujuan bangsa. Perlu kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Justru keluarga ini yang memiliki peran sebagai dasar utama pendidikan karakter."ujarnya

Sebagai penutup, Dr. Ahmad Nasir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam dan aksi nyata mulai dari lingkup terkecil. Kebinekaan Indonesia harus terus dijaga dan dirawat sebagai identitas serta kekuatan kolektif yang mempersatukan, bukan justru dipandang sebagai celah konflik yang memecah belah. Investasi pada karakter yang toleran hari ini akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu tetap kokoh berdiri sebagai bangsa yang beradab dan disegani di mata dunia internasional pada masa-masa yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....