BGN Gandeng Akademisi, Luruskan Misleading Soal UPF

  • 13 Feb 2026 14:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Badan Gizi Nasional (BGN) turut menggandeng berbagai akademisi yang ahli di bidang gizi dan teknologi pangan untuk membahas penggunaan ultra processed food (UPF) pada makan bergizi gratis (MBG). Pembahasan ini dikemas dalam kegiatan forum group discussion (FGD) di Auditorium Kamarijani-Soenjoto Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Jumat, 13 Februari 2026.

Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Gunalan mengatakan hingga saat ini setidaknya sudah ada 23.140 ahli gizi yang masih merasa kebingungan terkait dengan penggunaan UPF. Gunalan mengatakan, belum ada pengertian yang spesifik terkait dengan UPF. Di sisi lain, UPF juga selalu dikaitkan dengan konotasi negatif. Padahal, menurut Gunalan, pemrosesan pada makanan dilakukan untuk menjamin keamanan pangan, memperpanjang daya simpan, meningkatkan keterjangkauan, serta memperkuat nilai gizi melalui inovasi.

“Oleh karena itu, dalam pemahaman mengenai UPF perlu diluruskan agar tidak berkembang menjadi stigma publik yang dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap sistem penyediaan pangan nasional,” kata Gunalan saat membuka gelaran FGD di Auditorium Kamarijani-Soenjoto Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Jumat, 13 Februari 2026.

Gunalan memastikan menu utama program MBG tetap berorientasi pada pangan segar, bahan baku lokal, serta pengolahan di dapur layanan. Ini dilakukan sebagai bentuk keberpihakan negara kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM pangan. Meski begitu, Gunalan mengatakan dalam kondisi tertentu penggunaan produk olahan dasar yang memenuhi standar mutu dan keamanan dapat dilakukan. Namun, harus sesuai dengan standar dalam pengawasan sebagai bagian dari pendekatan kebijakan yang seimbang ilmiah dan adaptif terhadap realitas sistem pangan.

“Program ini membutuhkan sistem penyediaan pangan yang tidak hanya bergizi dan aman, tetapi juga adaptif terhadap kondisi lapangan. Mampu mengimbangi kebutuhan supply yang terus meningkat serta berkelanjutan secara ekonomi,” ucap Gunalan.

Sementara, Ahli Teknologi Pangan Universitas Jember Yuli Witono mengatakan terjadi miskonsepsi terkait dengan penggunakan kata UPF. Yuli mengatakan, secara umum UPF merupakan makanan yang melewati proses pengolahan makanan industri yang rumit dan melibatkan banyak bahan tambahan seperti gula, garam dan lemak, warna, pengawet dan perasa buatan serta bahan tambahan lainnya. Sering kali, bentuk aslinya diubah dan tidak bisa dibuat di rumah. Lalu, UPF Memiliki umur simpan yang panjang dan dirancang untuk praktis, cepat saji, serta menarik.

Yuli menekankan agar masyarakat tidak terjebak pada pandangan yang terlalu ekstrem. Tidak semua pangan olahan otomatis buruk, dan tidak semua pangan segar selalu lebih unggul dalam setiap konteks. Dia turut memberi contoh sederhana, jika seseorang ingin makan mangga segar, tentu manisan mangga tidak bisa menggantikannya karena keduanya adalah produk yang berbeda dengan tujuan konsumsi yang berbeda. Begitu pula jus mangga tidak sepenuhnya sama dengan mangga segar utuh. Masing-masing memiliki karakteristik, kandungan, dan fungsi konsumsi yang berbeda.

“Ini saja sudah luar biasa misleading-nya. Jadi seolah-olah yang segar bagus, yang tidak segar tidak bagus. Ini yang perlu kita kritisi,” kata Yuli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....