Kisah Maeswara Basket, Kerajinan Tangan Kulonprogo yang Mendunia
- 11 Nov 2025 16:04 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Maeswara Basket membuktikan bahwa barang yang terlihat biasa saja di daerah sendiri ternyata memiliki nilai tinggi di luar negeri. Dalam Dialog Jogja Pagi – Jogja Menyapa berjudul “Pahlawan Lokal, Produk Mendunia” pemilik Maeswara Basket, Masruroh Sulistyowati, mengungkapkan perjalanan usahanya yang berawal dari pameran di Belgia hingga akhirnya mampu menembus pasar ekspor dengan produk kerajinan berbahan serat alam asal Kulon Progo.
Sulis menceritakan ide Maeswara Basket bermula pada 2011, saat ia mendampingi teman pameran di Belgia dan melihat produk kerajinan Indonesia justru diminati masyarakat Eropa. Melalui pengalaman itu, ia menjadi sadar dan terinspirasi untuk mengembangkan produk lokal agar bisa memiliki nilai saing di pasar internasional. Setelah melalui proses belajar dan persiapan selama lima tahun, ia mulai memasarkan produknya pada 2016 melalui pameran di Jogja Expo Center dan berhasil mendapatkan pembeli tetap dari Belgia.
“Jadi dulu Maeswara Basket dari badan usaha yang sangat sederhana. Waktu itu terdaftar lewat program e-UMKM dan programnya dinas. Kemudian karena kapasitas produksi sudah cukup dan sudah bisa untuk ekspor dalam jumlah besar, akhirnya saya legalkan jadi CV untuk memenuhi syarat untuk bisa ekspor di tahun 2019. Setelah itu, rutin promosi di media sosial, pameran dan rajin update produk-produk baru,” ungkap Sulis dalam Dialog Jogja Hari Ini, Selasa (11/11/2025).
Sulis mengaku dapat memasarkan produk jualannya melalui jaringannya dengan beberapa pembeli luar negeri dan bergabung dalam asosiasi Belindo (Belgium Indonesia). Melalui asosiasi tersebut, ia banyak belajar tentang jenis produk Indonesia yang diminati pasar luar negeri serta mulai menyesuaikannya dengan potensi yang ada di Yogyakarta. Dari situ, ia berani mengembangkan produksi kerajinan secara bertahap, mulai dari ratusan hingga ratusan unit per bulan, sebelum akhirnya mampu memenuhi permintaan ekspor.
Suharto, S. E.,M. Si.,Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, narasumber lain yang turut hadir dalam dialog tersebut menilai pengalaman Maeswara Basket menjadi contoh nyata ketangguhan pelaku UMKM dalam menghadapi keterbatasan modal dan legalitas menuju pasar internasional. Ia menyoroti bahwa dukungan pemerintah terhadap UMKM yang ingin menembus pasar global masih perlu diperkuat, terutama dalam hal pendampingan, perizinan, serta koordinasi antar instansi. Menurutnya, kelembagaan seperti Koperasi Merah Putih seharusnya berperan aktif membantu pelaku usaha kecil agar proses menuju ekspor tidak memakan waktu lama dan lebih mudah dijangkau.
“Sekarang ini, kan ada berbagai persyaratan seperti sertifikasi halal dan lainnya yang juga harus dipenuhi oleh pelaku usaha kecil. Karena itu, perlu ada sosialisasi dan keberpihakan pemerintah, bahkan kalau bisa tanpa biaya, agar menjadi motivasi bagi UMKM untuk berkembang,” ujar Suharto.
Sebagai penutup, Sulis berpesan agar pelaku UMKM tidak mudah menyerah dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, kunci untuk tetap bertahan dan berkembang adalah semangat untuk belajar, menyesuaikan tren pasar, serta menjaga kualitas produk agar tetap dipercaya konsumen. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi, termasuk dengan generasi muda dan perguruan tinggi, untuk terus menghadirkan inovasi dalam desain dan produksi.
“Pesannya sama saja, jangan putus asa dan jangan putus semangat. Tetap beradaptasi karena dunia terus berubah. Kita yang harus menyesuaikan diri supaya bisa terus tumbuh, berkembang, dan bermanfaat bagi banyak orang. Selalu kreatif,” ucapnya mengakhiri. (Nunuk/Ellena)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....