FPL Kepuharjo Lestarikan Spesies Flora Langka Yogyakarta dan Nusantara

  • 23 Okt 2025 23:44 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Forum Pecinta Lingkungan Alam Lereng Merapi (FPL Palem Kepuharjo) melaksanakan kegiatan pelestarian tumbuhan lokal di kawasan lereng selatan Gunung Merapi, Padukuhan Batur, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menjaga keanekaragaman hayati Nusantara yang terancam akibat aktivitas manusia dan perubahan kondisi lingkungan.

"Jadi kami organisasi kecil di Lereng Merapi berdiri pada tanggal 20 April 2004, masih bau kencur, di usia 11 tahun dan bergerak untuk penghijauan penyelamatan tumbuhan-tumbuhan langka yang terancam punah juga. Jadi kegiatannya kita mengkonservasi tumbuhan langka yang ada di Nusantara ini. Salah satunya juga kita membangun hutan desa atau hutan konservasi di mana di situ kita tanami kayu-kayu langka yang jadi nama tempat di Yogyakarta," kata Warjana selaku Ketua FPL Palem Kepuharjo kepada RRI dalam Obrolan Komunitalks, Kamis (23/10/2025) kemarin.

Warjana menerangkan,ada sekitar 200-an jenis kayu langka yang ada di hutan konservasi Kepuharjo yang juga menjadi hutan edukasi dan ditanam di tanah kas desa sekitar dua hektar dan dikelola oleh 35 orang relawan dan masyarakat sekitar Kepuharjo.

"Kerja sama dengan di-support dari Pemerintah Kalurahan Kepuharjo. Kita ke depan hutan konservasi itu juga untuk memperkenalkan jenis-jenis kayu langka yang ada di Nusantara ini kepada anak cucu kita yang kami tanam di selatan Kopi Merapi ya, tempatnya di situ di utara lapangan Golf Merapi," ujar Warjana.

Hasil kolaborasi

Ia menyampaikan, spesies tanaman langka Nusantara yang didatangkan dari ujung Sumatera sampai Papua merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak yang peduli dengan prinsip konservasi. Pihak yang terlibat seperti dari lembaga pendidikan, swasta, pemerintah, BUMN dan sebagainya.

"Kita pelajari dulu habitat asalnya itu seperti apa, ketinggiannya, berapa mdpl (meter di atas permukaan laut, red), terus karakteristik pohonnya seperti apa, apakah dia mau di full sun, full rain atau di tempat teduh," ucapnya kala menggambarkan proses pemeliharaan tumbuhan langka yang keluar dari habitat aslinya.

Dirinya mengungkapkan, konservasi dilakukan dengan konsep belajar bersama. "Di tempat kami memang kita bangun sebuah konsep sinau bareng, konservasi seperti itu baik tumbuhan langka maupun anggrek dan untuk membudidayakan kita ada green house khusus anggrek, ada green house khusus untuk tanaman langka, terus kita ada juga lab kultur jaringan walaupun masih skala kecil,” ujarnya.

Dengan perubahan iklim yang terjadi, Warjana memperbanyak penanaman untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. “Kalau yang di green house, kita sesuaikan dengan kebutuhan tanaman tersebut jadi ada pengaturan suhu, kelembapan dan kalau yang kayu-kayu langka baik konvensional maupun kultur jaringan," katanya, menambahkan.

Hal menarik dari berbagai nama tumbuhan atau pohon langka yang ditaman Warjana dan rekan-rekannya adalah identitas tanaman itu telah dijadikan nama suatu tempat atau daerah di Yogyakarta.

"Seperti kayak Timoho itu, adalah (nama) pohon Timoho, terus Gondang terus ada Tanjung , ada Kepuh, ada Cangkring. Kalau Kepuh itu jadi nama kalurahan kami, terus ada Gayam, Mangiran," ucap Warjana, memaparkan. (vemmie/ros)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....