Kampung Siaga Bencana Bangun Budaya Siaga di Masyarakat
- 22 Okt 2025 00:22 WIB
- Yogyakarta
KBRN,Yogyakarta : Untuk meningkatkan kesadaran, kesiapsiagaan, dan membangun budaya siaga menghadapi potensi erupsi Gunung Merapi, Kampung Siaga Bencana (KSB) Merapi di Umbulharjo terus aktif memberikan edukasi kebencanaan kepada warga lereng gunung.
Hal ini diungkapkan Sriyono, Ketua Kampung Tanggap Bencana Merapi,Umbulharjo. Menurutnya edukasi ini dilakukan dalam bentuk pelatihan, simulasi evakuasi, hingga penyuluhan langsung dari relawan dan fasilitator. Dimana masyarakat diajak mengenali tanda bahaya serta cara merespons situasi darurat dengan tepat.
Program ini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak dan remaja agar memiliki pemahaman sejak dini tentang mitigasi bencana.
"Kampung Siaga Bencana (KSB)Merapi Kalurahan Umbulharjo ini dibentuk oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia pada tahun 2011 bulan November membawahi se-kecamatan atau se-kapanewon Cangkringan sekitar lima desa," ujarnya. "Jadi sebenarnya di Kalurahan ini kan ada beberapa organisasi masyarakat, ada Destana (Desa Tangguh Bencana) bentukan dari PBBD atau BNPB kemudian kalau KSB ini bentukan dari Kementerian Sosial,"kata Sriyono, Selasa (22/10/2025).
Lima Desa Tangguh Bencana adalah Umbul Harja, Bukir Sari, Gelagah Harja, Kepu Harja, dan Argo Mulio dan ada beberapa beberapa komponennya yaitu gardu sosial bencana sebagai pusat informasi, koordinasi, dan bantuan sosial ketika bencana terjadi,Lumbung Sosial atau Gudang Logistik, dan tim penanggulan bencanan.
"Jadi dari kelengkapan itu kita bergerak dari perannya ya kita melakukan pelatihan-pelatihan tentang penanggulan bencana, baik kepada masyarakat, ke relawan sendiri, maupun ke sekolah-sekolah dan ikut andil dalam rembuk desa dalam rangka untuk bagaimana pembangunan ini bisa aman dari bencana atau mendukung dalam rangka edukasi bencana," ucap Sriyono.
Ketika terjadi bencana,Kampung Siaga Bencana Merapi membuat membuat laporan, mengirim bantuan dan terjun langsung membantu para korban bencana. Sedangkan untuk kegiatan pasca bencana ini KSB Merapi ikut membantu proses evakuasi lanjutan untuk korban yang belum dievakuasi sepenuhnya,pencarian dan penyelamatan jika masih ada korban tertinggal,pemulihan mental untuk anak-anak dan orang dewasa yang terdampak trauma.
Gotong royong membersihkan puing-puing atau lumpur sisa bencana,perbaikan fasilitas umum seperti jalan, mushola, atau sekolah,melakukan pendataan korban dan kerusakan secara mandiri oleh warga KSB dan menyalurkan bantuan logistik seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan bayi dan lansia.
"Yang tergabung ada kurang lebih 50 personil, dan kita bagi dalam beberapa divisi dari berbagai latar masyarakat,seperti Tagana, Limas, forum komunikasinya,dari PKK, forum anak, kemudian ada dari Karang Taruna, tokoh masyarakat, tokoh agama, Pemerintah Kalurahan. Kampung Siaga Bencana itu wadah penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat,"ucap Sriyono.
Dijelaskan Sriyono,bencana yang sering terjadi saat ini adalah adalah bencana hidrometeorologi seperti adanya angin kencang dan pohon tumbang. Saat ini, Kampung Siaga Bencana (KSB) Merapi sedang membangun barak inklusi di Dusun Plosorejo untuk penyandang disabilitas, agar memudahkan mereka yang menggunakan tongkat atau kursi roda dalam mengakses barak tersebut tanpa mengalami kesulitan.
"Pintunya itu kita kasih pintu geser,kemudian termasuk untuk toilet, pintunya juga kita lebarkan,kita bikin pintu geser dan kita kasih untuk toilet duduk bukan jongkok. Di kelengkapan kita ini kan ada barak, kemudian ada toilet, kemudian ada lumbung sosial, ada gardu sosial, gudang logistik atau lumbung sosial, serta dapur umum jadi masih sosialisasi pentingnya barak inklusi ini,"ucap Sriyono.
Selain itu ada rencana membangun Puskesmas Pembantu dan ini menjadi contoh sehingga pembangunan-pembangunan fasilitas umum yang serupa ini bisa ramah terhadap disabilitas."Harapan kami nanti 2026 ini bisa digarap semua pihak, biasanya kan perencanaan untuk seperti itu kan harus bertahap matang gitu dan juga ada tahapannya itu harus ada musawarah dan sebagainya, harapan kami itu tahun 2027 sudah bisa kelihatan lah itu," kata Sriyono.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....