Keunikan Pakaian Adat Pengantin di Gayo
- 17 Jul 2024 23:46 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh : Pakaian adat Gayo adalah salah satu warisan budaya di Aceh. Pakaian adat ini tidak hanya mencerminkan identitas dan kekhasan masyarakat Gayo, tetapi juga nilai-nilai budaya, spiritual, dan estetika yang telah diwariskan turun-temurun.
Pakaian adat Gayo telah ada sejak zaman dahulu dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat dataran tinggi Aceh itu. Pakaian ini dikenakan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, upacara adat, dan perayaan keagamaan. Seiring waktu, pakaian adat Gayo mengalami perkembangan dalam desain dan bahan, tetapi tetap mempertahankan unsur-unsur tradisional yang menjadi ciri khasnya.
Dikutip Wikipedia, pakaian adat perkawinan Gayo, mengetengahkan kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning dan hijau. Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita disebut Ineun mayak. Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung, genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang.
Sanggul sempol gampang dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad nikah, dan ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak warna-warni sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan celana pria biasanya berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam songket yang disebut upuh kerung bakasap.
Unsur pakaian yang diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan ketawak. Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter tali (pilin berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif mun berangkat merupakan simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna ikatan yang teguh; puter tali bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo dan ulen adalah kekuatan yang menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri.
Motif-motif tersebut dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada latar warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan, motif-motif lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif pada stagen ketawak berlatar kain warna merah muda atau merah bata.
Belakangan latar kain tempat menuangkan motif tadi menjadi sangat bervariasi, tergantung pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah, coklat clan lain-lain. Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan, tetapi dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada kecenderungan sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik.
Pakaian semacam itu dipakai para pejabat dalam menerima tamu terhormat yang datang dari luar daerah, misalnya menteri. Tamu terhormat itu pun disambut penari yang menggunakan "baju adat" baju ketawang dengan berselimut upuh ulen-ulen tadi. Biasanya tamu terhormat atau tamu - agung itu diselimutkan pula dengan kain adat upuh ulen-ulen berkualitas terbaik.
Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat.
Pada masa yang lebih akhir ini industri kerajinan kain bernuansa adat ini digalakkan oleh pemerintah setempat clan berkembang menjadi industri kerajinan rumah tangga. Motif-motif tadi tidak hanya dituangkan pada busana, tetapi sudah muncul pada kopiah, tas, dompet, taplak meja, bantalan kursi, clan lain-lain. Perkembangan ini dirasakan semakin memantapkan identitas budaya.
Hasil-hasil kerajinan yang muncul dalam berbagai item tadi, yang dikenal dengan kerawang Gayo kebetulan mendapat perhatian pada di luar Gayo. Hal itu menyebabkan tumbuhnya industri "Kerawang Gayo" di luar daerah Gayo, misalnya di Banda Aceh, Medan, Jakarta dan hasilnya muncul di berbagai toko cenderamata di berbagai kota di Indonesia.
Pakaian adat Gayo memiliki makna simbolis yang mendalam yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Gayo. Warna-warna yang digunakan dalam pakaian adat Gayo tidak dipilih secara acak. Setiap warna memiliki makna tersendiri, seperti warna hitam untuk kekuatan, merah untuk keberanian, dan putih untuk kesucian.
Selain itu, Motif-motif bordir pada pakaian adat Gayo sering kali menggambarkan alam, flora, dan fauna yang ada di sekitar masyarakat Gayo, serta nilai-nilai spiritual seperti keimanan dan kearifan lokal. Bentuk pakaian yang sederhana namun elegan mencerminkan kesederhanaan dan keanggunan dalam budaya Gayo, serta menunjukkan rasa hormat terhadap adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur.
Sehingga, pakaian adat Gayo menjadi salah satu warisan budaya yang kaya dan penuh makna dari masyarakat Gayo di Aceh. Dengan desain yang indah, bahan yang berkualitas, dan makna simbolis yang mendalam, pakaian adat ini tidak hanya menjadi identitas masyarakat Gayo tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....