Asal usul Kota Sabang Disebut Pulau Weh
- 11 Jul 2024 15:58 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banfa Aceh: Berdasarkan mitologi sejarah ada yang menyebut nama pulau Weh atau pulau W atau pulau Sabang. Hakikatnya pulau ini masuk menjadi bagian kepulauan terkecil di ujung barat, tempat awal perhitungan jarak Nol Kilometer NKRI. Kamis (11/7/2024)
Disadur dari berbagai sumber halaman, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh menyebutkan, Menurut legenda yang beredar dalam masyarakat Sabang. Pulau Weh dulu bersatu dengan daratan Banda Aceh, tepatnya dengan Ulee Lheue.
Namun, akibat gempa bumi dan gunung meletus yang terjadi ribuan tahun lampau, daratan itu terlepas menjadi pulau-pulau baru. Yakni Pulau Weh, Pulau Rondo, Pulau Rubiah, Pulau Seulako, dan Pulau Klah.
Nama Pulau Weh sendiri berasal dari bahasa Aceh, weh, yang berarti `pindah’, ‘lepas’, atau `geser’. Ulee Lheue juga berasal dari kata Ulee Lheueh, yang artinya ‘terlepas’. Ada juga yang menyebut Pulau Weh sebagai Pulau We (tanpa ‘h’) karena bentuk pulaunya seperti huruf “W”.
Halaman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud menceritakan, Cerita tentang sejarah terbentuknya Pulau Weh dengan sejarah asal-usul nama Kota Sabang. Cerita mitologi tentang perseteruan antara Raja Alam yang bijaksana dan Raja Daru yang berhasrat untuk menguasai wilayah kekuasaan Raja Alam yang terkenal makmur pada masa itu.
Hasrat Raja Daru terhalang karena Raja Alam memiliki peliharaan seekor naga sakti yang diberi nama Sabang. Naga ini sangat patuh dan setia kepada Raja Alam.
Inilah yang menyebabkan Raja Daru meminta pertolongan kepada dua raksasa, Seulawah Agam (laki-laki) dan Seulawah Inong (perempuan). Terjadilah pertarungan antara naga Sabang dengan Seulawah Agam dan Seulawah Inong.
Sadar akan kekuatan kedua raksasa tersebut, naga Sabang berpesan kepada Raja Alam bahwa mereka akan kalah karena ia tidak akan bisa menang melawan kedua raksasa tersebut. Dan ia pun menyampaikan bahwa pada saat ia kalah maka sungai yang memisahkan dua wilayah kekuasaan Raja Alam dan Raja Daru akan menyatu.
Bumi akan berguncang keras dan air laut akan surut, dan naga Sabang meminta Raja Alam dan seluruh rakyatnya melarikan diri ke tempat tinggi. Karena pada saat air laut surut kemudian akan muncul ie beuna (gelombang laut yang melanda daratan karena gempa) yang akan menghantam daratan.
Singkat cerita, kalahlah naga Sabang, kepalanya putus ditebas oleh Seulawah Agam. Kepala (ulee) naga Sabang yang telah terputus (lheuh) dibuang oleh Seulawah Agam ke lokasi yang saat ini dikenal dengan Ulee Lheue.
Ulee Lheue sebuah kampung yang masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh. Jika melakukan perjalanan ke Kota Sabang, pasti sudah tidak asing dengan daerah Ulee Lheue.
Adapun tubuh naga Sabang dilempar oleh Seulawah Inong jauh ke tengah lautan. Tubuh naga Sabang inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pulau Weh.
Itulah sebab kenapa pulau tersebut dinamakan Weh yang berasal dari kata weh dalam bahasa Aceh yang artinya pindah atau pergi. Sebagai gambaran weh (pindah/pergi atau bisa dimaknai terpisah) antara badan dan kepala naga Sabang yang terputus (ulee lheuh yang merupakan asal usul dari nama Kampung Ulee Lheue).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....