Ada Tempat Rekreasi Baru di Pinggir Jalur Peureulak-Lokop

  • 01 Jan 2024 13:00 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Aceh Timur: Ruas jalur darat Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Gayo Lues, kini sudah dapat ditembus dengan kendaraan.

Ke dua Kabupaten yang sebelumnya terpisah oleh rimba (hutan belantara) juga pegunungan, saat ini terhubung darat via jalur Kecamatan Peureulak (Aceh Timur) dan Kecamatan Lokop (pedalaman Gayo Lues).

Sejak jalur darat Peureulak - Lokop mulai digunakan untuk akses kendaraan publik, semakin menjadikan potensi pemandangan alam disepanjang pinggiran jalannya, terekspos sebagai potensi wisata baru.

Denyut potensi Ekowisata Peureulak - Lokop, mulai berdetak di Desa Bunin. "Ekowisatanya sangat bagus, karena berbasis pada keindahan alami yang masih terjaga", kata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Aceh Timur, Syahril, kepada Kanal Bithe.co dan dikutip ulang rri.co.id, Senin (1/1/2024) siang. Tulisan ini juga telah melalui proses penyuntingan ulang redaksi RRI.

Potensi Wisata setempat, tergolong masih "Perawan". Terbentuk secara alamiah, dan semenjak akses transportasi ruas Jalan Peureulak – Lokop terhubung, kunjungan wisatawan pun mulai dilaporkan meningkat drastis.

Hamparan Hijau menemani perjalanan para pengguna jalan. Udara segar dikelilingi pepohonan, serta tumbuhan hutan hujan tropis, terlihat belum terjamah.

Rekreasi Rafting (Arung Jeram), Tubing (Arung Ban), Camping Ground (Bumi Perkemahan), dan Air Terjun Terujak, di pinggiran jalur Peureulak - Lokop, mulai dikenal (Viral). Lokasinya persis dibawah jembatan Lokop.

Tapi jarak tempuh yang harus dilalui pengguna kendaraan untuk menuju ke lokasi itu, kurang lebih 110 Kilo Meter (KM) dari Kecamatan Idi Rayeuk atau Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur. Jika diukur dengan waktu, sekitar 2 jam 30 menit.

Kini, wilayah Bunin dan Sungai Lokop menjadi magnet pariwisata baru yang membuat pengunjung selalu ingin mencicipi keindahan dan kesejukan alam disana. Diinformasikan juga, setiap hari libur, ratusan warga memadati lokasi wisata pemandian tersebut.

Sangat disayangkan, jika potensi yang bernilai ekonomis ini tidak dijaga dengan baik, maka akan sia-sia belaka.

“Kita siap memperjuangkan ini semua. Tentu perlu dukungan dari para pihak lain, terutama Yayasan HAkA yang selama ini telah banyak membantu serta mendampingi masyarakat di sini", tutur Kadisporapar Aceh Timur.

HAkA adalah singkatan dari nama Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh, yang selama ini aktif menggarap potensi di Desa setempat. HAkA juga merupakan sejenis Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang dibentuk secara khusus. Mereka mendampingi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), dibawah Lembaga Pengelola Hutan Gampong (LPGH).

“Kita akan mewujudkan Bunin agar kian dikenal. Kita bersyukur, pemerintah mau memfasilitasi dan memperjuangkan Bunin menjadi Desa Wisata sekaligus Desa Ekowisata pertama di Aceh Timur", ucap Sekretaris HAkA, Badrul Irfan.

Alam memang menyimpan sejuta berkah, bila dikelola secara baik tanpa merusak keasriannya. Bahkan bisa seiring sejalan dalam memenuhi kebutuhan manusia yang ada didekatnya. Setidaknya Desa Bunin, telah memulainya bahkan jadi yang pertama di Aceh Timur.

Selamat, semoga sukses atas usaha dan kerja kerasnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....