Menyibak Benteng Moraya yang Penuh Misteri
- 29 Nov 2023 14:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
PROVINSI Sulawesi Utara memiliki ragam keindahan yang memikat hati. Setiap orang tergoda untuk pergi ke tempat yang memiliki julukan ‘Nyiur Melambai’ ini.
Selain Taman Nasional Bunaken, Danau Tondano, dan Festival Bunga Tomohon, banyak tempat bersejarah lain yang cocok dijadikan destinasi wisata. Salah satunya Benteng Moraya.
Benteng yang terletak di Tondano ini menyimpan misteri peperangan antarsuku. Bahkan antarsekutu dalam usaha mempertahankan wilayah.
Tim RRI melakukan perjalanan sekitar 45-60 menit dari Manado ke Tondano. Kami ingin mengetahui lebih banyak cerita tentang Benteng Moraya.
Tiba di kompleks benteng, kami menjumpai penjaga sekaligus sejarawan asal Minahasa, Maxi Mandolang. Ia lantas bercerita banyak tentang Benteng Moraya.
Tampak dari depan, Benteng Moraya memiliki menara pengintai. Bangunan ini pada zaman perang terbuat dari sembilan batang kayu dengan diameter besar.
Menara pengintai itu sekarang dibangun dengan konstruksi beton. Fungsinya untuk mengamati pergerakan musuh yang hendak menyerang.
Dalam bahasa setempat Moraya berarti pertumpahan darah. Ini mengingatkan masyarakat Minahasa tentang peristiwa perang suku atau melawan penjajah, dalam mempertahankan wilayah.
Konon di Benteng Moraya pernah terjadi pertempuran hebat masyarakat dengan bala tentara Belanda. Kawasan ini lantas berubah seperti lautan darah dan banjir air mata, saking banyaknya korban dari kedua belah pihak.
Bahkan Danau Tondano dan sungai di sekitarnya berubah warna menjadi merah. Banyak orang yang gugur saat peperangan terjadi.
Nama Moraya yang berarti genangan darah akhirnya disematkan untuk benteng tersebut. Benteng pun sekaligus dijadikan monumen untuk menghargai semangat juang dan nilai kepahlawanan orang-orang Minahasa.
Dari aspek konstruksi, Benteng Moraya terbuat dari kayu sebagai pelindung. Kini sebagian masih tersisa dan tersimpan sebagai saksi sejarah di tempat tersebut.
Maxi menceritakan benteng pertahanan orang Minahasa ini dibangun pada 1554. Kala itu Minahasa masih bernama Malesu, dengan batas wilayah dari Mongondow hingga Siau, yang meliputi sembilan sub-etnis.
Benteng Moraya pada masa itu menjadi pertahanan suku Malesu ketika melawan suku Mongondow. Dalam pekembanganya Benteng Moraya kemudian dipakai pertahanan orang Minahasa melawan Belanda, Portugis, dan Spanyol yang menjajah pada 1661-1809.
“Benteng Moraya terbuat dari batangan kayu-kayu besar berbentuk pagar. Lokasi ini dahulu adalah kampung pertama masyarakat Minahasa, yang sebelumnya bernama Toudano, dan kalau sekarangnya namanya Minawanua,” kata Maxi.
Selanjutnya, “Apa yang Tersimpan di Benteng Moraya”
SAAT RRI memasuki Benteng Moraya, terlihat di bagian belakang sejumlah bebatuan dengan ukuran bervariasi. Malah ada yang tingginya lebih dari 2 meter.
Maxi, pemandu di benteng tersebut, menjelaskan bebatuan itu merupakan makam atau peti mati manusia yang dalam bahasa setempat disebut Waruga. Benda itu usianya sudah ratusan tahun.
Waruga yang telah tertanam itu coba diambil, tetapi hanya bisa bagian atas karena saking panjangnya. Sekarang bagian atas Waruga itu yang disimpan di dalam benteng.
Maxi mengungkapkan proses pemakaman menggunakan Waruga dilakukan dengan cara jenazah diposisikan berdiri. Di bagian depan ditulis nama atau simbol lain yang hingga kini masih terlihat.
Benteng Moraya sarat sejarah ini mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata modern. Bangunan yang mulai lapuk telah diremajakan.
Misalnya konstruksi menara pengintai yang sekarang memakai beton. Di bagian dalam juga telah dibangun tempat pertunjukan yang diberi nama Amphitheater.
Di situ masyarakat bisa menggelar pertunjukan seni dan tari. Selain itu di bagian luar dinding Amphitheater dituliskan nama marga asal suku-suku di Minahasa.
Di Benteng Moraya pun sudah banyak dibuka warung atau kios. Tempat itu untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dalam hal kuliner dan cenderamata.
Selanjutnya, “Perawatan dan Animo Wisatawan”
JUMLAH pengunjung Benteng Moraya sebelum Covid-19 sekitar 3.000 orang dalam sebulan. Setelah pandemi berlalu jumlah pengunjung belum kembali optimal, meski diyakini akan pulih seiring berjalannya waktu.
Masyarakat berharap Benteng Moraya terus diperhatikan pemerintah setempat. Itu supaya warisan sejarah ini tetap terawat.
Dari segi keindahan tempat ini berada di posisi yang cantik. Sebab, pengunjung bisa menikmati pemandangan hijau area persawahan nan menyejukkan mata.
Apalagi ketika Anda perlahan menaiki tangga untuk sampai di puncak menara benteng. Dari ketinggian itu terlihat keindahan alam Tondano yang memesona.
Wisatawan juga bisa bertemu dengan masyarakat Minahasa yang sehari-hari mengenakan baju adat. Mereka boleh diajak berfoto dengan latar benteng yang indah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....