Metro Museum, Jejak Sejarah Transportasi Jepang

  • 14 Nov 2023 14:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Tokyo: Sejarah kereta bawah tanah pertama di dunia dibuka di London, Inggris Raya, pada tahun 1863. Dan, Jepang mencoba membawa ide tersebut sejak tahun 1927 untuk diimplementasika kepada warga negeri Sakura.

Hayakawa Noritsugu menjadi bapak pendiri kereta api bawah tanah di Jepang kala itu. Layanan pertama di Jepang, antara Ueno dan Asakusa sepanjang 2,2 km, akhirnya dibuka pada 30 Desember 1927.

"Tahun 1914, Hayakawa Noritsugu mengunjungi London untuk melakukan penelitian kereta api di Eropa dan Amerika.Dia percaya bahwa kereta api bawah tanah akan sangat penting untuk Tokyo di masa depan," kata Okubo, pemandu Metro Museum, yang didampingi penerjemah, Nisio, Selasa (14/11/2023).

"Dia pun memulai survei geologis, dan volume mata air di persimpangan Ueno dan Ginza, termasuk volume lalu lintas dalam mendirikan kereta bawah tanah Tokyo (pertamanya). Tahun 1927, mimpinya menjadi kenyataan ketika kereta bawah tanah (subway) pertama di Jepang, dibuka antara Ueno dan Asakusa (2,2 km)," katanya di hadapan RRI bersama tim MRT Jakarta.

Wartawan RRI mendapat kesempatan mencoba simulator kereta bawah tanah bersama instruktur Oni Sang di Tokyo Metro Museum (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Sejak saat itu, jaringan kereta bawah tanah terus berkembang dengan pesat. Hal ini mendukung pertumbuhan perkotaan, hingga menjadi transportasi publik sehari-hari.

Kunjungan RRI di Metro Museum juga menyaksikan contoh kereta bawah tanah pertamanya. Kereta itu berwarna kuning dan merah dinamai gerbong Marunouchi Line #301 (merah) dan gerbong #1001 (kuning)

Gerbong kereta Marunouchi Line #301 (merah) dan gerbong #1001 (kuning) merupakan gerbong kereta bawah tanah pertama di Jepang dan telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Nasional yang Penting (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Dengan tiket ¥220 (sekitar Rp23 ribu), Anda dapat menyaksikan film dokumenter pembuatan kereta bawah tanah di bioskop khusus. Di dalamnya juga terdapat film animasi pendek yang turut diputar.

Bagian pertama museum ini membawa Anda pada perjalanan melintasi waktu tentang sejarah sistem kereta bawah tanah Tokyo dan perluasannya. Setelah itu, pengunjung diajak ke platform tiruan Stasiun Ueno, lengkap dengan iklan dari awal abad ke-20.

Di sana, RRI melihat gerbong kereta bawah tanah pertama di Asia yang telah direnovasi. Gerbong boks jalur Ginza ini dihiasi interior kayu dan boneka-boneka yang didandani sesuai mode masa kini.

Gerbong boks lainnya yang telah dipugar adalah dari jalur Marunochi. Ini merupakan jalur kereta bawah tanah pertama yang dibangun setelah Perang Dunia II.

Di area tersebut, pengunjung dapat berfoto dan dipersilakan duduk di kursinya, membuka jendela, dan menekan tombol. Meskipun semua pameran sebagian besar dalam bahasa Jepang, visualiasinya mengesankan dan mudah dipahami.

Di antara panel yang ditampilkan di museum terdapat replika stasiun komando pusat. Di sana juga terdapat replika model tata letak kereta api, bahkan mesin bor terowongan penampang melintang.

Yang paling menarik dari museum ini adalah simulator kereta api. Kita dapat duduk santai di kursi pengemudi di mobil kondektur jalur Chiyoda.

Atau, kita bisa duduk di depan monitor video yang menampilkan rute jalur Ginza, Yurakucho, dan Tozai. Hal yang dapat menyaingi popularitas simulator kereta api adalah Metro Panorama.

Ini merupakan diorama pusat kota Tokyo yang menampilkan seluruh jalur Metro Tokyo. Diiringi dengan musik yang menarik dan panduan suara, panorama menunjukkan empat pertunjukan setiap harinya.

Tampilan terowongan subway (kereta bawah tanah) pertama di Tokyo Metro Museum, (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Belajar dari Jepang

Keberadaan Museum Metro Jepang ini merupakan sebagian dari sarana edukasi kepada publik yang layak diadopsi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo usai mengunjungi Museum Metro Jepang.

"Kita akan mendorong edukasi kepada publik ini sedini mungkin. Sehingga, masyarakat Jakarta sudah mulai bisa belajar dari usia dini tentang bagaimana mengembangkan budaya dan bagaimana pentingnya dan bagaimana manfaatnya," kata Pratomo kepada RRI.

Menurutnya dari Museum Metro tersebut dapat terlihat kolaborasi antara pemerintah dengan sektor privat. Kolaborasi ini yang kemudian dapat mewujudkan interkoneksi pada stasiun bawah tanah.

"Karena tadi dimulai dari private sector, ada satu private sector yang mulai duluan. Habis itu disusul ada private sector berikutnya, yang akhirnya digabungkan, dikonsolidasikan oleh pemerintah Tokyo menjadi satu kesatuan agar bisa terintegrasi. Dan perkembangannya selanjutnya terintegrasi terus sampai sekarang," katanya.

Karena itu, pihaknya berencana mempersiapkan adopsi pembelajaran ini agar dapat mengedukasi publik tentang pentingnya MRT. Selain itu, pihaknya juga akan mengembangkan kolaborasi antara sektor privat dengan pemerintah.

Museum Metro ini dibuka pada tahun 1986. Ia terletak di bawah area layang Stasiun Kasai Jalur Tokyo Metro Tozai. Museum ini dibangun dengan harapan para pelajar, generasi muda, dan masyarakat dapat lebih memahami Subway.

DI dalamnya diperkenalkan sejarah kereta bawah tanah hingga teknologi kereta Jepang terkini. Anda dapat belajar banyak di museum interaktif “lihat, sentuh, gerakkan” ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....