Agrowisata Petik Anggur Jadi Daya Tarik Wisata Baru di Kepulauan Riau

  • 23 Agt 2026 22:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wisata petik anggur menjadi alternatif destinasi wisata sekaligus pengalaman edukatif bagi pengunjung.
  • Pesona Bay Sungailiat dan Bintan Farmland mencatat tingginya antusiasme wisatawan lokal saat masa panen.
  • Pengembangan agrowisata menghadapi tantangan iklim, kualitas tanah, air, dan hama tanaman.

RRI.CO.ID, Jakarta – Agrowisata petik anggur mulai menjadi alternatif destinasi wisata di sejumlah wilayah Indonesia. Pengunjung dapat menikmati buah sekaligus mengenal proses budidaya tanaman secara langsung.

Staf Marketing Pesona Bay Sungailiat, Mayly Maytirkha, mengatakan wisata petik anggur dibuka ketika buah siap dipanen. Pengelola mengumumkan waktu panen melalui media sosial untuk menarik pengunjung.

“Kalau memang sudah siap petik, kita baru publis di sosmed. Tapi kalau (pengunjung) mau masuk untuk sekadar berfoto ataupun lihat-lihat saja boleh,” ujar Mayly saat berbincang bersama Pro3 RRI Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2026.

Pesona Bay memiliki 14 jenis anggur dengan harga petik sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Tingginya antusiasme pengunjung bahkan membuat persediaan buah sempat habis ketika wisata tersebut ramai.

“Karena masih cukup jarang kalau di daerah kita ini, budidaya anggur sendiri. Dan kebetulan lagi ada proyek pelebaran buat wisata buah sendiri di belakang (hotel),” kata Mayly.

Pengembangan tersebut mencakup penanaman stroberi dan sejumlah tanaman lain seperti pepaya, kelengkeng, jeruk, serta durian. Langkah tersebut diharapkan menambah pilihan pengalaman bagi wisatawan yang berkunjung.

Sementara itu, Owner Bintan Farmland, Choery Jayadi, mengatakan kebunnya menerima pengunjung terutama ketika memasuki masa panen. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk dan dapat memilih buah untuk dicicipi sebelum membeli.

“Jadi masyarakat di sini bebas untuk masuk, petik buah yang dia mau cicip. Untuk panen pertama ini, stok buah habis oleh kunjungan wisatawan lokal,” ujar Choery.

Choery mengatakan pengunjung Bintan Farmland tidak hanya datang untuk menikmati buah dan berfoto. Sebagian pengunjung berusia 30 tahun ke atas juga tertarik mempelajari budidaya anggur untuk usaha.

“Kalau usia muda rata-rata mereka itu senang untuk berfoto, mencoba. Kalau usia 30 keatas itu ingin belajar atau bertanya-tanya untuk usaha (budidaya anggur),” kata Choery.

Ia mengatakan pengembangan Bintan Farmland diarahkan menjadi kawasan edukasi sekaligus wisata petik buah. Area tersebut nantinya juga berpotensi dikembangkan dengan berbagai jenis tanaman buah lainnya.

Budidaya anggur di wilayah tropis memiliki sejumlah tantangan, terutama terkait kondisi iklim dan kualitas tanah. Mayly mengatakan tanaman membutuhkan perhatian khusus selama musim kemarau, terutama dalam penyiraman.

“Musim kemarau itu memang harus ekstra banget untuk penyiramannya. Apalagi di Bangka Belitung tanahnya tidak terlalu subur,” ujar Mayly.

Choery menambahkan perubahan cuaca dapat memicu hama dan memengaruhi kesehatan tanaman. Ia mengatakan keseimbangan air juga penting karena terlalu banyak atau sedikit air dapat mengganggu pertumbuhan anggur. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....