Jelajahi Kalimantan: Kuliner Banjar Serta Mitos Benda Bertuah
- 12 Jan 2026 20:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Bayangkan pagi yang kabutnya turun pelan di atas sungai. Perahu-perahu kayu saling berpapasan seperti sapaan tetangga, dan aroma kayu basah bercampur wangi rempah dari dapur-dapur kecil di tepian.
Begitulah Kalimantan menyapa: tidak tergesa, tidak berisik, tapi membekas lama di kepala. Perjalanan di pulau ini sering mulai dari air—dari dermaga kecil, dari pasar terapung, dari obrolan yang lembut dengan orang Banjar yang ramah.
Rasa yang tenang di dapur Banjar
Hidangan sederhana yang memeluk lidah dengan hangat. Masuk ke kampung-kampung Banjar, aroma bumbu tumis dan santan tipis muncul hampir di setiap rumah makan sederhana.
Soto Banjar, dengan kuah bening berbumbu kuat. Jadi pintu masuk yang aman bagi siapa pun.
Disajikan bersama perkedel, potongan telur, sedikit bawang goreng. Rasanya bersih, ringan, dan mengundang suapan berikutnya tanpa banyak bicara.
Di sisi lain, ketupat Kandangan dengan ikan haruan (gabus) panggang yang disiram kuah santan gurih pedas. Ini akan membuat Anda diam beberapa detik hanya untuk menakar seberapa nikmat pertemuan asap panggang dan santan itu.
Ada juga ayam masak habang—merahnya dari cabai yang dimasak lama hingga manis pedasnya "menyatu" dengan daging. Serta gangan asam yang segar, menetralkan lelah perjalanan.
Di kios kecil, Anda mungkin menemukan hintalu karuang, penganan manis yang kental, cocok untuk penutup sambil menatap arus pelan di depan warung. Dan ya, amplang ikan yang renyah itu hampir selalu ikut masuk tas—oleh-oleh yang ringan, tapi aromanya bisa langsung menghidupkan ingatan ke pelabuhan kecil tempat Anda membelinya.
Catatan di atas sungai
Ketika peta adalah aliran air, dan jarak diukur dengan arus. Banyak catatan perjalanan di Kalimantan bermula di Banjarmasin.
Lalu melipir ke Martapura, Loksado, atau menyusuri Kapuas yang panjangnya seperti cerita yang tak habis dibaca. Di sungai, jam terasa melambat. Anda belajar sabar, belajar mendengar.
Bagaimana tukang perahu bercerita tentang musim ikan, atau penjual kue menawar sambil tersenyum. Kadang, yang baru bukan tempatnya, melainkan cara kita melihat.
Di Loksado, bambu-bambu dirangkai menjadi rakit—balanting paring—mengalirkan Anda menyusuri jeram kecil di antara hijau hutan yang rapat. Airnya dingin, percikannya halus, dan setiap tikungan memberi kejutan yang menyenangkan.
Sore hari, langit merah muda memantul di permukaan air, membuat foto yang tidak perlu diedit apa-apa lagi. Jika Anda ingin menyiapkan rute, penginapan, hingga daftar makanan yang tidak boleh terlewat, caranya sederhana.
Temukan panduan yang rapi, simpan, lalu cek disini untuk mendapatkan pembaruan perjalanan yang bersih dan enak dibaca. Kadang, satu email ringkas dengan peta kecil dan catatan singkat sudah cukup mengubah perjalanan Anda dari "asal jalan" menjadi "pulang membawa cerita."
Mitos Benda Bertuah: Antara Rasa Ingin Tahu dan Rasa Hormat

Foto: https://www.selasar.com/senjata-tradisional/kalimantan-timur/
Berjalan lebih jauh ke pedalaman, cerita tentang benda bertuah muncul. Seperti kabut tipis: tidak selalu terlihat, tapi terasa.
Di rumah-rumah tertentu, keris tua digantung rapi; ada mandau yang disimpan rapat. Kain tenun yang dipercaya membawa perlindungan, hingga batu-batu kecil yang dianggap menyimpan energi baik.
Orang-orang menyampaikannya tanpa niat menggurui—lebih. Seperti menjaga warisan keluarga, memelihara kisah yang dititipkan leluhur.
Apakah semuanya harus dipercaya? Tidak juga. Tapi ada baiknya kita mendengarkan dengan santun.
Mitos, pada dasarnya, menyimpan peta emosi manusia: ketakutan, harapan, dan upaya memahami dunia. Saat saya menulis catatan ini, saya pun menyaring bacaan dan rujukan dari link terpercaya—bukan.
Untuk meneguhkan keyakinan tertentu, melainkan agar cerita-cerita yang saya temui punya konteks, punya pijakan, dan bisa disimak tanpa prasangka. Kunci memahami benda bertuah adalah memegang dua hal sekaligus: rasa ingin tahu dan rasa hormat.
Jangan asal memegang, jangan memotret sembarangan, apalagi memaksa pemilik bercerita jika mereka tampak ragu. Ada batas yang tidak tertulis—dan di situlah kita belajar menjadi tamu yang baik.
Merangkai perjalanan: dari piring ke cerita
Yang kita bawa pulang sering kali bukan barang, tapi rasa. Kalau ditanya apa yang paling berkesan dari jelajah Kalimantan, jawabannya jarang satu.
Kadang itu semangkuk soto Banjar di pagi berkabut; kadang percikan sungai Loksado yang menampar pipi. Kadang juga cerita-cerita benda bertuah yang membuat kita menunduk sebentar, menyadari betapa kaya lapisan makna di negeri ini.
Perjalanan yang baik tidak harus heboh. Ia cukup jujur: makan yang ada, dengarkan yang diceritakan. Dan pulang membawa sikap yang lebih lembut pada perbedaan.
Beberapa hal kecil yang membantu:
• Waktu terbaik cenderung saat cuaca lebih bersahabat; musim kering memberi ruang. Untuk rute sungai dan jalan darat yang lebih mulus.
• Sapa orang lokal dengan senyum. Tanyakan rekomendasi warung kecil. Biasanya justru di sanalah rasa terbaik bersembunyi.
• Bawa botol minum ulang-isi, tas kain, dan kesadaran untuk tidak meninggalkan jejak selain pijakan ringan di tanah.
• Hormati ruang budaya: minta izin sebelum memotret, dengarkan sebelum bertanya lagi.
Pada akhirnya, jelajah Kalimantan mengajarkan kita cara berjalan yang pelan tapi penuh. Anda mungkin datang untuk kuliner Banjar, lalu pulang dengan benang-benang cerita lain.
Tentang sungai yang sabar, tentang hutan yang menjaga, dan tentang mitos yang membuat kita lebih hati-hati pada bahasa, sejarah, dan sesama. Dan itu, kalau dipikir-pikir, justru hadiah perjalanan yang paling bertuah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....