Menelusuri Jejak 'Hobbit' di Situs Liang Bua Ruteng

  • 16 Feb 2025 13:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

"HOMO Floresiensis merupakan salah satu penemuan terbesar dalam menjejak kehidupan masa prasejarah. Di situs Liang Bua, terekam gambaran masa lampau sang 'hobbit', bagian dari teori evolusi nan masyhur itu."

***

KBRN, Manggarai: Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 Wita saat kami beranjak dari tempat tidur. Kami harus bergegas menuju Ruteng, salah satu Kecamatan di Manggarai, karena perjalanan dari Labuan Bajo diperkirakan memakan waktu lima jam.

Liang Bua menjadi tujuan Tim Liputan RRI Pusat Pemberitaan. Di sana kami ingin menjejak kehidupan masa prasejarah pada era Homo Floresiensis.

Kata-kata 'berburu dan meramu' adalah yang pertama terlintas dalam benak. Teringat pelajaran sejarah di bangku sekolah menengah.

Matahari belum tepat di atas kepala saat kami tiba di depan gapura bertuliskan "Selamat Datang di Desa Liang Bua". Pertanda kami sudah dekat dengan gua yang menjadi bagian dari mata rantai evolusi manusia.

Benar saja, selang beberapa menit, mobil yang kami tumpangi sudah ada di dekat situs Liang Bua. Dengan sedikit berjalan kaki kami sudah tiba di mulut gua.

"Perkenalkan saya Benyamin Ampur. Sehari-hari saya yang bertugas menjaga gua sekaligus memandu wisatawan," kata pria setengah baya itu.

Papan pengumuman Situs Liang Bua yang masih dalam proses penelitian (Foto: RRI/Ari Dwi P)

Liang Bua memang sudah dibuka untuk umum, dalam arti bisa dikunjungi siapa saja. Baik, untuk wisata maupun edukasi, kendati statusnya masih dalam proses penelitian Pusat Arkeologi Nasional.

Hawa di dalam gua nan luas ini begitu adem, semilir angin terasa sejuk, padahal cuaca di luar sangat panas. Di beberapa titik kami melihat bekas galian yang telah ditutup tanah dan pasir.

"Di lubang-lubang galian inilah ditemukan beberapa fosil Homo Floresiensis. Sampai saat ini masih terus diteliti," kata Benyamin.

Selain fosil manusia prasejarah juga ada hewan-hewan seperti purba. Contohnya gajah purba, fauna endemik, stegodon, marabou stork, komodo, dan masih banyak lainnya.

Hal itu seperti dikatakan arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Thomas Sutikna. Melalui perbincangan daring, ia memaparkan banyak hal mengenai Liang Bua.

“Di Liang Bua itu yang kami temukan yang benar-benar utuh itu hanya satu, dari kepala sampai kaki, hanya satu. Jenis kelaminnya perempuan,” kata Thomas yang merupakan salah seorang penemu fosil Homo Floresiensis pada 2001 di gua tersebut.

“Namun, kami terus melakukan penelitian dan penggalian. Itulah mengapa situs Liang Bua sampai saat ini ada beberapa titik yang statusnya masih observasi, jadi pengunjung harus berhati-hati ketika di sana,” ia menambahkan.

Proses penelitian yang berlangsung di Situs Liang Bua oleh para peneliti BRIN, beberapa tahun lalu (Foto: Dokumentasi Thomas Sutikna)

Thomas yakin observasi lanjutan yang dilakukan, bakal menemukan lebih banyak lagi fosil-fosil atau mati rantai lainnya. Kendati, nanti tulang belulangnya fosil sudah tercerai berai.

Lantas berasal dari Floresiensis atau manusia ‘hobbit’ itu bisa eksis di Liang Bua? Thomas pun menyampaikan analisisnya.

“Itu memang masih jadi pertanyaan klasik dan sampai sekarang belum 100 persen bisa terjawab dengan detail. Sebab, ada beberapa kemungkinan,” kata Thomas.

Thomas Sutikna (Foto: Australian Embassy)

“Paling pertama kami duga itu berasal dari utara ke selatan, kemungkinan dari Sulawesi lalu ke selatan. Satu-satunya pulau yang memiliki fauna endemik yang mirip dengan Flores itu hanya Sulawesi dan kelompok-kelompoknya Filipina,” katanya.

Itu karena di Liang Bua juga ditemukan gajah purba dan stegodon seperti halnya di Sulawesi dan Filipina. “Nah, kami terus meneliti sampai nanti dapat kesimpulan lengkap, termasuk bagaimana kepunahan Homo Floresiensis dan satwa-satwa yang ada.”

Kesan Wisatawan Mancanegara

Di siang yang terik tapi teduh di dalam gua, kami menjumpai tiga orang turis dari Italia. Mereka rupanya adalah ayah, ibu, dan anak.

Piergiorgio Matteini, nama lelaki paruh baya yang membawa istri dan anaknya ke Flores, setelah menuntaskan pelesir di Vietnam. Mereka mendatangi Liang Bua karena tertarik dengan cerita tentang ‘hobbit’ di dunia nyata pada masa lampau.

Ilustrasi dari Homo Floresiensis atau manusia 'hobbit' yang ditemukan di Situs Liang Bua (Foto: RRI/Ari Dwi P)

“Saya baca-baca Lonely Planet dan menemukan Pulau Flores, di Ruteng, ada kisah tentang manusia hobbit. Senang bisa berada di sini,” Dodo, panggilan akrabnya.

“Sayang, fosil asli yang ditemukan sudah tidak di sini. Jadi tidak banyak yang bisa kami temukan,” ia menambahkan.

Ilustrasi hewan purba seperti gajah, stegodon, hingga komodo yang pernah eksis di kawasan Situs Liang Bua (Foto: RRI/Ari Dwi P)

Meski demikian Dodo bisa memaklumi keadaan yang ada. Apalagi ada museum kecil di depan gua yang berisi sejarah lengkap Liang Bua, termasuk beragam penemuannya.

Liang Galang dan Liang Tanah

Selain Liang Bua di kawasan setempat juga ada Liang Tanah dan Liang Galang. Thomas Sutikna menjelaskan kalau tiga tempat itu memiliki hubungan, dalam arti sebagai ekosistem manusia maupun hewan purba.

RRI coba memilih Liang Galang untuk melakukan eksplorasi setelah dari Liang Bua. Liang Galang dipilih karena jaraknya sangat dekat, cukup jalan kaki beberapa meter.

Dengan sedikit menaiki bukit, kita sudah sampai di mulut Liang Galang. Di dalam situ suasana lebih lembab dan basah.

Tim liputan RRI Pusat Pemberitaan berada di bak tempat air situs Liang Galang (Foto: RRI/Ari Dwi P)

“Di Liang Galang itu ada semacam bak, disebut sebagai sistem kanal air. Maka di situ memang lebih basah,” kata Thomas Sutikna.

Namun, di Liang Galang tidak ditemukan fosil manusia purba, dalam hal ini Homo Floresiensis. Termasuk hewan-hewan purba.

***

Akhirnya Tim Liputan RRI Pusat Pemberitaan ke Ruteng untuk mengunjungi Liang Bua selesai sudah. Meninggalkan jejak dan pertanyaan betapa megahnya kehidupan masa lampau, termasuk keberadaan Homo Floresiensis nan unik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....