Filosofi "Membumi" Pandu Pendampingan Atlet Indonesia di APG Thailand
- 22 Jan 2026 09:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.co.id - Nakhon Ratchasima - Proses pendampingan kontingen atlet difabel Indonesia di ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand mengutamakan filosofi 'membumi'. Chef de Mission APG 2025 Thailand Reda Mantovani menyampaikan pesan penting ini secara langsung saat diwawancarai RRI.
Menariknya, ia juga menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen di Kejaksaan Agung RI. Filosofi tersebut menekankan pentingnya seluruh jajarannya turun langsung ke lapangan serta memahami semua dinamika yang ada.
Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan terbaik bagi seluruh atlet difabel. Dukungan yang tepat sasaran akan memaksimalkan potensi perjuangan mereka dalam setiap pertandingan.

Chef de Mission (CdM) Indonesia untuk ASEAN Para Games (APG) ke-13 Thailand, Reda Mantovani, (Foto: NPC Indonesia)
Kontingen Indonesia sendiri telah melakukan persiapan intensif sejak tiba di Thailand pada pertengahan Januari. Berikut petikan wawancara eksklusif Reporter RRI Danang Sundoro (DS) bersama CdM Indonesia di APG Thailand, Reda Mantovani (RM), Rabu 21 Januari 2026:
DS : "Hari pertama (pasca pembukaan APG-red) H+1 sudah lebih dari sepuluh (emas-red). Gimana catatannya, Prof Reda?"
RM: "Catatannya sejauh ini, Lancar-lancar saja sih alhamdulillah. Ya kita sekarang catatannya itu agar membuat para atlet itu tetap semangat. Itu saja paling, untuk berjuang sebaik mungkin untuk Indonesia."
RM : "Senang bangga H+1 dibuka dengan para-cycling yang mengoleksi tiga emas (hari pertama pertandingan-red) langsung, dua perak. Waduh happy, karena yang tiga emas dari para-cycling, ya. Dan juga ada dua yang renang itu, itu enggak diunggulkan. Itu, 'clear-clear' artinya satu kejutan. Oh kejutan, jadi kita dapat lima itu dari, dari atlet yang enggak diunggulkan. Begitu, ya kan. Kalau yang diunggulkan kan ya kita kan kalau pertama atlet ini sudah sering ketemu, jadi kita bisa tahu nih. Tapi kadang-kadang tadi ada atlet renang yang baru mulai kita rekrut, latih enam bulan, sudah dapat satu medali emas."
DS : "Nah dari renang. Nah ini dia. H+1 Menpora datang tapi Prof Reda juga sudah keliling, sederhananya kalimatnya seperti itu. Nah catatan dari keliling-keliling ini gimana Prof? Dari asrama, terus juga ke apa namanya tempat menu makanan yang mungkin dianggap sepele tapi kan itu, itu juga penting gitu lho buat atlet. Bagaimana?"
RM :"Penting, karena catatan tadi memang ada makanan yang agak kurang cocok, makanya kita bikin dapur umum sendiri. Mungkin ada beberapa makanan yang cocok tapi banyakan yang enggak cocok (masakan yang disiapkan panitia tuan rumah-red), akhirnya kita nyiapin sendiri, dapur umum sendiri untuk seluruh atlet."
DS : "Itu makanan, bagaimana dengan catatan lainnya? Ada keluhan-keluhan? Mungkin kalau sederhananya kalau bahasa anak zaman 'now' , curhatan kepada CdM itu?"
RM :"Oh sebelum sampai ke saya, tim saya yang di lapangan, yang koordinator lapangan sudah langsung menyelesaikan. Sudah menerima curhatan dan memberikan solusi. Nah itulah tim CdM kami itu memang para jaksa ini. Ada kepala kejaksaan, ada kepala seksi."
DS : "Nah, ini yang saya mau garis bawahi sebenarnya, di kesempatan yang berbahagia ini RRI bisa duduk bareng dengan Prof Reda Mantovani adalah terkait Kejaksaan. Pertanyaannya sederhana Prof, ini kan disabilitas, mohon maaf nih Prof adalah orang Kejaksaan, kok mau turun tangan Prof gitu? Kok mau turun tangan ngangkat-ngangkat makanan, membagikan minuman dan lain sebagainya? Mendengarkan curhatan tadi? Bagaimana Prof?"
RM :"Ada satu yang mungkin memang saya lagi mengajak teman-teman. Ini ada 25 jaksa ini yang turun nih, 25 jaksa yang turun. Saya ingin mengajak junior-junior saya itu untuk bisa membentuk karakter cinta kasih. Selama ini kan mereka nih para jaksa punya kewenangan di lapangan yang begitu luar biasa. Bayangkan ya, tanda tangan itu bisa menahan orang nih. Iya kan? Nah, artinya apa, dia kan punya ego yang tinggi, punya perasaan yang tinggi, 'pride' yang tinggi, karena kewenangan tadi. Nah itu kan akan kurang bagus nanti kalau memang terus menerus seperti itu dalam praktik penegakan hukumnya. Jadi kita harus imbangkan dengan penegakan hukum yang humanis. Bagaimana caranya? Untuk melatih bisa memperhatikan orang lain, ya ini turun langsung melihat teman-teman disabilitas bertanding, membantu teman-teman disabilitas, bagaimana melayani mereka. Akhirnya itu akan membentuk karakter yang 'down to earth', 'membumi', tidak memperlihatkan kewenangannya. Saya sempat berbicara di setiap pertemuan dengan para anggota CdM ini yang notabene para jaksa, saya ingatkan, ini sebenarnya bukan kita ngebantu teman-teman disabilitas, tetapi membantu diri kita sendiri nih, dalam membentuk karakter pribadi manusia yang penuh empati. Ngeri kan?"
DS : "Mumpung ada orangnya jadi dikoreksi, bahwa Prof Reda Mantovani ini mendapatkan sertifikat MURI terkait dengan beliau dicap ya Pak, sebagai pemerhati untuk disabilitas betul ya? Tokoh relawan disabilitas."
RM : "MURI tahun 2024. He... karena memang setiap tahun saya mengumpulin, mengumpulkan teman-teman disabilitas di hari perayaan Hari Disabilitas Internasional di suatu pertemuan. Itu terakhir tahun 2024 ( 2025-red). Ini aja saya ngumpulin sekitar 3.500-an teman-teman disabilitas di Tangerang, ICE BSD."
DS :"Baik Pak CdM, terakhir. Perjalanan ASEAN Para Games masih panjang sampai 26 Januari 2026, target kita sudah 'clear' dari awal mencanangkan peringkat kedua, 82 emas, 77 perak dan 77 perunggu. Singkat Pak CdM, dua kata untuk para atlet kita Prof. Apa yang ingin disampaikan?"
RM : "Tetap berjuang, semangat untuk Indonesia. Dan jangan lupa bahagia."
DS : "Amin. Prof Reda Mantovani terima kasih, Pak CdM mohon maaf mengganggu pertandingan sepak bolanya
RM : " Sama-sama".
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....