"Dan Janda Itu Ibuku", Penghormatan Abadi Kang Maman atas Sosok Ibu
- 22 Des 2024 21:16 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Jurnalis senior dan saat ini, penulis produktif, Maman Suherman, punya perspektif yang unik tentang sosok seorang ibu. Pandangannya itu ia tuangkan dalam karya terbarunya “..dan janda itu ibuku”.
Mantan Pimpinan Redaksi Kompas Gramedia itu mengisahkan sosok sang ibu dalam siniar RRI Yogyakarta, Pacelathon, yang tayang Minggu (22/12/2024), dalam edisi khusus memperingati Hari Ibu.
Pria yang karib dengan sapaan Kang Maman itu dengan gamblang mengakui, buku baru yang ditulisnya itu mengambil inspirasi dari sosok ibunda, yang sangat dicintainya.
"Kisah nyatanya, inspirasinya pasti dari ibu saya, yang menjanda hingga akhir hayatnya hingga 38 tahun," ucap Kang Maman.
Tentunya tak mudah membesarkan enam orang anak dengan status janda. Bagi Kang Maman, apa yang dilakukan ibunya, yang tetap bersiteguh tak mencari pria lain setelah mendiang suaminya tiada, merupakan perjuangan yang luar biasa.
Namun, sebelum menulis, alumnus Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia (UI) ini juga mengaku banyak menggali informasi mengenai suasana hati dari beberapa perempuan yang membesarkan anaknya seorang diri sebagai orangtua tunggal.
Menurut penuturan Kang Maman, ayahnya meninggal pada tahun 1982. Sejak itu, ibundanya berjuang sendirian membesarkan ia dan kelima adiknya.
Tak sedikit tempaan yang dihadapi dalam perjalanan seorang Ibu membesarkan anak-anaknya sendirian. Namun, stigma janda di negara dengan pola patriarki yang begitu kuat menjadi stereotipe yang berkesan negatif sehingga tak jarang hinaan sebagai janda sering dialami sang ibu.
Lewat karyanya, Kang Maman berpesan untuk menepis stigma anak yang dibesarkan oleh janda tidak dapat tumbuh untuk menuai kesukesan.
“Jangan pernah percaya bahwa semua anak dengan orangtua tunggal pasti broken home, pasti akan menghasilkan anak anak yang tidak bisa diandalkan. Yuk kita buktikan sama-sama yuk bahwa kita bisa,” ucapnya.
Lantas mengapa buku ini baru terbit di tahun 2024? Kang Maman menyebutkan, ibunya yang sangat bersahaja adalah sosok yang tidak suka denga glorifikasi ataupun mementingkan citra diri, sehingga buku “..dan janda itu ibuku” baru ditulis empat tahun setelah meninggalnya sang ibu.
Maman Suherman sendiri juga meyakini, sang ibu mungkin tak akan berkenan jika kisahnya ditulis ketika ia masih hidup. Sebab itu, buku setebal 248 halaman tersebut, menjadi semacam penghormatan posthumous untuk ibunda Kang Maman.
Setidaknya, Maman Suherman atau Kang Maman, ingin mengabadikan jasa luar biasa sang ibu dalam rangkaian kata yang kini terlahir sebagai buku, dan ulasan buku tersebut juga dapat disimak melalui Pacelathon Podcast RRI Yogyakarta yang ditayangkan di akun youtube RRI Jogja Official. (lulu/atang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....