Mencernati Wayang Kulit Dalam Segmen 'Goro-Goro Dan Limbukan'

  • 31 Okt 2024 09:32 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Wayang Kulit merupakan pertunjukan kesenian Jawa yang disebarkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Pada zaman dahulu media wayang kulit selain sebagai tontonan yang mengandung nilai hiburan, juga digunakan untuk penyebaran agama Islam. Hal itu terjadi karena masyrakat Jawa jaman dahulu banyak menganut agama non muslim.

"Pertunjukan Wayang kulit dari dulu hingga sekarang mengalami perkembangan dari berbagai aspek, misalnya dalam sajian "Limbukan" dan "Goro-Goro". Dalam bagian ini, dalang menyampaikan pesan yang gamblang, bukan tersirat namun tersurat. Dengan cara tersurat atau jelas memungkinkan penonton mudah menerima pesan" kata Suratno Ganda Tanaya, tokoh seniman asal Boyolali Solo kepada rri.co.id..

Lanjutnya, Limbukan dan Goro-Goro dalam adegan wayang digunakan untuk media penyalur informasi antara panggung wayang, dengan penikmat wayang/penonton. Melalui lagu-lagu dolanan dan "dagelan" atau lelucon, dalang menyampaikan pesan kepada penonton. "Pada Pedalangan jaman dahulu, gendingnya lebih mengarah ke karya-karya daerah, namun sekarang merambah ke lagu-lagu kekinian. Lagu kekinian yang berkembang di masyarakat, diantaranya, lagu bergenre dangdut, campursari, koplo, yang bisa di arransemen ke dalam musik gamelan, acap kali tampil dalam Pedalangan" ucapnya

Selain jenis tembang atau lagunya, cara penyajian juga berkembang, swarawati olah vokal dengan posisi berdiri. Selain kehadiran swarawati dalam jumlah besar (lebih dari 1 bahkan belasan atau lebih), juga menghadirkan Komedian yang berinteraksi dan bersinergi dengan dalang dan swarawati, bahkan bisa dinikmati melalui media streaming youtube.

"Dewasa ini pertunjukam wayang kulit tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar, tetapi sudah mendunia melalui media streaming youtube. Dengan demikian dari sisi kuantitas/jumlah, penonton lebih besar, meski hanya lewat media virtual." ujar Suratno.

Lanjutnya, sajian wayang yang dahulu menjadi media penyebaran agama berubah menjadi seni pertunjukan atau entertain. Dengan format ini fungsi wayang kulit menjadi lebih kompleks dan luas. Wayang kulit di era sekarang lebih mengedepankan keinginan atau selera masyarakat. Hal ini membuat sebagian dalang di era sekarang hampir kehilangan pakem, lebih memilih 'aman' dimata masyarakat sebagai penikmat.

"Pakem atau kaidah dalam pakeliran, sebagai koridor dalam permainan wayang, merupakan hal yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang dalang. Hal ini mengingat bahwa dalang adalah pemberi tontonan sekaligus tuntunan yang bertugas mencerahkan masyarakat' katanya. (Riski Utami, Ali Marsudi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....