BMKG Wamena, Puncak Kemarau Terjadi Juli-Agustus
- 28 Agt 2026 03:15 WIB
- Wamena
Poin Utama
- BMKG Wamena mengingatkan masyarakat Papua Pegunungan untuk mewaspadai dampak musim kemarau yang sedang mencapai periode puncaknya.
- Musim kemarau telah berlangsung sejak Mei 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Juli hingga Agustus 2026.
- Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyampaikan informasi prakiraan cuaca ini kepada media RRI pada Rabu, 26 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Wamena — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena mengingatkan masyarakat di Papua Pegunungan untuk mewaspadai dampak musim kemarau yang saat ini memasuki periode puncak.
Forecaster BMKG Wamena, Ahmad Armanda ketika di temui RRI Rabu (26-8-2026), mengatakan musim kemarau secara umum telah berlangsung sejak Mei dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026 ini.
"Kemarau sebenarnya kita sudah masuk dari bulan Mei kemarin, Mei-Juni. Kemudian untuk puncaknya sekarang, di bulan Juli hingga dengan Agustus," ujar Ahmad.
Menurutnya, secara umum musim kemarau di Indonesia diperkirakan berakhir pada September hingga Oktober. Namun, kondisi tersebut dapat berbeda di setiap wilayah bergantung pada dinamika cuaca dan iklim setempat.
Ahmad menjelaskan, sejumlah dampak yang perlu diwaspadai selama musim kemarau antara lain kekeringan dan suhu udara yang lebih dingin pada malam hari. Kondisi udara dingin tersebut juga dapat memicu terbentuknya embun beku, khususnya di wilayah dataran tinggi atau kawasan puncak.
"Untuk embun beku selama kemarau ini kita tetap berhati-hati. Untuk waktu pastinya kita tidak bisa prediksi," katanya.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kondisi cuaca selama musim kemarau, termasuk menghindari aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan. Menurut Ahmad, pembakaran lahan dapat menghasilkan asap yang mengurangi jarak pandang dan berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan di wilayah Papua Pegunungan.
"Untuk penerbangan sendiri kita memang akhir-akhir ini, apalagi seminggu-dua minggu terakhir, sudah terganggu. Yang awalnya penerbangan dibuka sekitar jam 8 pagi, di beberapa hari ini sudah mundur sampai jam 11 pagi," jelasnya.
BMKG, lanjut Ahmad, telah berkoordinasi dengan pihak maskapai terkait kondisi cuaca dan jarak pandang yang dapat memengaruhi operasional penerbangan.
"Kita sudah koordinasi dengan maskapai," ujarnya.
Ahmad juga menanggapi kebiasaan sebagian masyarakat yang melakukan pembakaran dengan anggapan dapat memancing turunnya hujan. Ia menegaskan, secara ilmiah tidak terdapat hubungan antara pembakaran lahan dengan upaya mendatangkan hujan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....