Festival Etnik Religi 2026,Dari Tolikara menuju Pasar Indonesia dan Dunia

  • 16 Agt 2026 17:30 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, Tolikara — Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, iman, dan kebersamaan masyarakat. Di balik panggung festival, tumbuh sebuah semangat baru,membangun ekonomi daerah melalui karya tangan masyarakat sendiri.

Lapangan Merah Putih Karubaga berubah menjadi etalase ekonomi kreatif Tolikara. Berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM dipamerkan—mulai dari batik bermotif buah merah dan kelapa hutan, kerajinan tangan, mahkota, lukisan, ukiran, hingga berbagai produk kreatif lainnya.

Kehadiran produk-produk lokal ini memperlihatkan bahwa kekayaan Tolikara bukan hanya berada di dalam tanah dan hutan, tetapi juga hidup dalam ide, kreativitas, keterampilan, dan tangan-tangan masyarakatnya. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah batik dengan motif khas Tolikara.

Motif buah merah, kelapa hutan, anggrek Papua, serta perpaduan unsur budaya masyarakat pegunungan dan daratan menjadi bagian dari upaya membangun identitas visual daerah. Di tangan para pelaku UMKM, batik menjadi cerita tentang tanah, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Tolikara yang dikemas menjadi produk bernilai ekonomi.

TP-PKK bersama Dekranasda Kabupaten Tolikara terus mendorong agar kekayaan budaya tersebut dapat diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat. Dekranasda Kabupaten Tolikara bahkan membuka peluang bagi Organisasi Perangkat Daerah untuk menggunakan batik bermotif khas Tolikara sebagai seragam resmi.

Tetapi tentang bagaimana pemerintah daerah menjadi pasar pertama bagi produk masyarakat sendiri, sehingga perputaran ekonomi terjadi di daerah dan manfaatnya kembali kepada pelaku usaha lokal. Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., saat mengunjungi stan TP-PKK dan Dekranasda, memberikan apresiasi terhadap kreativitas masyarakat yang ditampilkan dalam festival.

Ia mengajak ASN dan seluruh masyarakat Tolikara untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi produk lokal. Menurutnya, tren batik Papua harus terus dikembangkan dengan menghadirkan motif-motif yang benar-benar mencerminkan kekayaan budaya dan alam setiap daerah.

Bupati Willem Wandik juga mendorong agar setiap OPD dapat memiliki batik dengan motif khas Tolikara. “Dengan melihat tren baju batik Papua, tetapi juga baju bermotif budaya yang dibuat Dekranasda dan PKK Kabupaten Tolikara, kami berharap masyarakat dan ASN dapat membeli kain dan produk yang ada di sini. Ada beberapa motif khas Tolikara yang perlu kita kembangkan,” ujarnya.

Membeli produk lokal berarti memberikan kesempatan kepada seorang pengrajin untuk terus berkarya, memberikan pendapatan kepada keluarga, dan ikut menggerakkan roda ekonomi daerah. Semangat yang sama disampaikan Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si. Ia mengajak generasi muda asli Tolikara untuk tidak hanya menjadi penikmat karya, tetapi tampil sebagai pencipta.

Menurutnya, berbagai ukiran, lukisan, motif kain, mahkota, dan kerajinan yang ditampilkan dalam festival merupakan modal besar untuk membangun industri kreatif daerah. “Anak-anak asli Tolikara harus bisa mencurahkan karya, ide, dan gagasan. Mari kita ukir sesuatu yang ada di daerah ini, baik budaya maupun kekayaan alam yang kita miliki, lalu kita lestarikan melalui karya,” ujarnya.

Sebab ekonomi masa depan tidak hanya dibangun melalui sumber daya alam, tetapi juga melalui sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan berani menciptakan sesuatu yang memiliki nilai jual. Dari sebuah motif kain, sebuah ukiran, sebuah lukisan, sebuah mahkota, hingga secangkir kopi Tolikara, semuanya dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya lapangan kerja dan sumber pendapatan baru.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tolikara Irsan Sambur, ST, menyampaikan kebanggaannya terhadap perkembangan produk UMKM lokal. Menurutnya, sejumlah produk Tolikara memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional.

Potensi tersebut telah terlihat ketika produk Dekranasda dan TP-PKK Tolikara mengikuti pameran di Makassar. Berbagai produk seperti kerajinan tangan, batik, mahkota, dan produk kreatif lainnya mendapat perhatian masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui Dinas Koperasi dan UMKM berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku usaha. Dukungan tersebut akan dilakukan melalui pembinaan dan pelatihan, termasuk kolaborasi bersama TP-PKK dan Dekranasda.

“Pemerintah daerah harus terus memberikan dukungan dan support kepada teman-teman UMKM untuk memajukan daerah ini. Dalam waktu dekat akan ada pelatihan-pelatihan yang kami kolaborasikan dengan PKK dan Dekranasda,” ungkapnya.

Pelatihan diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan produksi, tetapi juga menyentuh aspek penting lainnya, seperti kemasan, kualitas produk, pemasaran, branding, digitalisasi, hingga perluasan jaringan pasar. Dengan demikian, UMKM Tolikara tidak berhenti pada tahap membuat produk, Tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....