Satu Noken Berjuta Harapan, Geliat Ekonomi dari  Kampung Walesi Jayawijaya

  • 21 Jul 2026 17:28 WIB
  •  Wamena
Poin Utama
  • Koperasi Desa Merah Putih Walesi di Kabupaten Jayawijaya telah beroperasi selama setahun dan membuktikan model kemandirian ekonomi lokal berbasis hasil bumi petani.
  • Kantor kampung Walesi menjadi pusat penjualan berbagai produk pertanian segar meliputi buah-buahan matang, sayur-mayur hijau baru petik, dan umbi-umbian berukuran besar yang ditampilkan di lapak sederhana.
  • Inisiatif Kopdes Merah Putih Walesi menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi Papua Pegunungan dapat dimulai dari pengelolaan dan pemasaran hasil pertanian lokal secara terorganisir.

RRI.CO.ID, Wamena - Setahun berjalan, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Walesi membuktikan bahwa kemandirian ekonomi Papua Pegunungan bisa dimulai dari hasil bumi para petani lokal.

Halaman Kantor Kampung Walesi, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, mendadak berubah menjadi lautan warna dan aroma yang segar. Buah-buahan yang ranum, sayur-mayur hijau yang baru dipetik, hingga umbi-umbian berukuran besar berjajar rapi di lapak-lapak sederhana.

Selama dua hari, sejak Senin hingga Selasa (21/07/2026), masyarakat berkumpul dalam riuh kegembiraan. Mereka tidak hanya sedang berbelanja, tetapi sedang merayakan sebuah pencapaian besar yakni, Hari Ulang Tahun pertama Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Kampung Walesi. Perayaan ini dikemas dalam sebuah festival dan bazar murah.

Di balik keramaian itu, ada sebuah filosofi mendalam yang diusung, yakni "Satu Noken Berjuta Harapan". Noken, tas tradisional Papua yang rajutannya melambangkan rahim dan kehidupan, kini menjadi simbol wadah kesejahteraan baru bagi masyarakat adat setempat.

Dari Tangan Petani, Menuju Pasar Lebih Luas

Semua produk komoditi lokal yang dipamerkan merupakan hasil keringat para petani lokal yang tergabung dalam koperasi. Ketua Kopdes Merah Putih Walesi, Amatus Yelipele, mengungkapkan bahwa festival ini adalah panggung pembuktian bagi hasil kerja keras para anggotanya selama enam bulan terakhir.

Namun, mimpi Amatus dan masyarakat Walesi tidak berhenti pada pameran dua hari ini saja. Ada misi besar untuk memutus rantai tengkulak dan membangun kemandirian pangan yang mandiri.

“Kami ingin membangun satu ekosistem. Bagaimana petani bisa menjual hasil mereka langsung ke koperasi, lalu koperasi yang mendistribusikannya ke konsumen di seluruh Papua Pegunungan," ujar Amatus optimis.

Bahkan, Amatus menegaskan bahwa mereka tidak ragu membidik pasar yang lebih jauh. "Kami juga siap mengirim produk keluar (Papua) sesuai dengan permintaan. Koperasi kami siap kerja,” katanya dengan nada tegas.

Kampung Welesi Teladan untuk Papua Pegunungan

Langkah nyata yang ditunjukkan oleh Kopdes Merah Putih Walesi ini mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah Provinsi Papua Pegunungan. Sebagai salah satu program prioritas nasional Presiden RI, keberadaan 28 kelompok tani di bawah naungan koperasi ini dianggap sebagai motor penggerak ekonomi yang potensial.

Gubernur Papua Pegunungan, yang diwakili oleh Asisten III Setda Lukas W. Kossay, menyatakan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap model pergerakan ekonomi berbasis komunitas masyarakat lokal seperti ini.

“Pemerintah mengapresiasi pengembangan koperasi ini yang sasarannya langsung menyentuh 28 kelompok tani di 7 kampung," tutur Lukas Kossay di sela-sela acara.

Lukas menambahkan, pemerintah menaruh harapan besar agar inovasi dari Walesi ini tidak berhenti di sini saja, melainkan menular ke daerah lain. "Kami mengharapkan koperasi ini bisa menjadi percontohan untuk seluruh Wilayah Provinsi Papua Pegunungan,” ujarnya berharap.

Bagi Lukas, koperasi adalah sarana paling ideal untuk menyerap dan menyalurkan seluruh potensi komoditi pertanian dan kegiatan produktif yang ada di bumi Papua.

Harapan Baru di Hari Esok

Saat matahari mulai condong ke barat di langit Jayawijaya, bazar murah mungkin akan segera berakhir. Namun, semangat yang lahir dari "Satu Noken Berjuta Harapan" baru saja dimulai.

Melalui Kopdes Merah Putih Walesi, masyarakat setempat kini sadar bahwa tanah subur mereka adalah modal utama untuk berdaulat secara ekonomi. Dari Walesi, sebuah pesan kuat dikirimkan ke seluruh penjuru Papua Pegunungan: bahwa kesejahteraan bisa dirajut sendiri, selangkah demi selangkah, dari dalam noken mereka sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....