BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Dasarian III dan El Nino di Papua Pegunungan

  • 25 Jun 2026 15:59 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, Wamena – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V Jayapura resmi merilis laporan Peringatan Dini Iklim dan Cuaca untuk Provinsi Papua Pegunungan periode Dasarian III Juni 2026 tanggal 21 hingga 30 Juni.

Berdasarkan surat resmi bernomor e.B/KL.00.02/099/KBB5/VI/2026 Kepala Balai, Yustus Rumakiek, sebagian besar wilayah Papua Pegunungan saat ini dilaporkan masih mengalami musim hujan. Kendati demikian, BMKG memastikan bahwa untuk periode akhir Juni ini, tidak ada wilayah yang masuk dalam kategori Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi maupun Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis.

Meski tidak ada peringatan dini ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah kabupaten.

Sebagai provinsi dengan tipe iklim hujan sepanjang tahun, dinamika cuaca di Papua Pegunungan sangat fluktuatif. BMKG membagi prakiraan cuaca 10 harian ke dalam beberapa rentang waktu sebagai berikut:

Pada awal dasarian periode 21 – 23 Juni 2026, wilayah yang diprediksi mengalami guyuran hujan sedang hingga lebat meliputi: Lanny Jaya, Nduga, dan Mamberamo Tengah.

Memasuki pertengahan hingga akhir bulan Juni periode 24 – 30 Juni 2026, cakupan wilayah yang berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat meluas secara signifikan ke hampir seluruh kabupaten, yaitu: Jayawijaya, Tolikara, Mamberamo Tengah, Yalimo, Lanny Jaya, Nduga, Pegunungan Bintang, dan Yahukimo.

Dalam laporan yang sama, BMKG juga memprediksi peluang terjadinya El Nino dengan intensitas moderat mencapai 100% yang artinya BMKG sangat yakin bahwa anomali cuaca El Nino dalam skala sedang pasti terjadi dan aktif. Sementara peluang untuk intensitas berubah menjadi kuat berada di angka 86%.

Ketika El Nino terjadi, terutama dalam skala moderat hingga kuat, dampaknya secara umum membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Hal ini berpotensi memicu kekeringan dan krisis air bersih, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan gangguan pada sektor pertanian atau ketahanan pangan akibat berkurangnya curah hujan.

Di sisi lain, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diproyeksikan akan beralih menuju status IOD Positif mulai bulan Agustus hingga Desember 2026.

Sedangkan untuk pergerakan angin monsun, Monsun Asia dilaporkan aktif namun diprediksi akan menuju fase tidak aktif. Sebaliknya, Monsun Australia sudah aktif sejak Dasarian I April 2026 dan diprediksi akan terus aktif dengan intensitas yang sedikit lebih kuat dari rata-rata klimatologisnya.

Menanggapi hasil analisis cuaca dan iklim tersebut, BMKG mengharapkan data ini dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah, khususnya Gubernur Papua Pegunungan, serta masyarakat luas sebagai langkah mitigasi dan peningkatan kewaspadaan terhadap dampak ikutan cuaca seperti banjir atau longsor di daerah rawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....