Tantangan Disiplin & Karakter di Papua menuju Indonesia Emas

  • 03 Mei 2026 09:45 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, WAMENA – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, LPP RRI Wamena menyelenggarakan dialog interaktif bertajuk "Potret Pendidikan Papua: Tantangan Disiplin dan Karakter Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas". Diskusi yang berlangsung pada Sabtu (02/05/2026) ini menghadirkan Suzie Maria, M. Ed. EC, selaku Konselor Pendidikan Anak Usia Dini, Cindy Diah, S. E, dan Konselor Kesehatan Mental Jacinda L. Wiley Basinger, B.A., M.A,.

Dialog Suara Papua Pegunungan yang terselenggara menyoroti pentingnya pola asuh yang tepat dan penguatan relasi antara pendidik serta orang tua dalam membangun kualitas generasi muda di Papua.

Meski berada di wilayah dengan tantangan infrastruktur yang cukup tinggi, anak-anak di Papua dinilai memiliki semangat belajar yang luar biasa. Narasumber dalam dialog tersebut mengungkapkan bahwa potensi anak-anak Papua sangat besar, namun sering kali terhambat oleh faktor eksternal.

"Tantangan utama pendidikan di Papua bukan terletak pada potensi anak, melainkan pada dukungan fasilitas, pemerataan tenaga guru yang berdedikasi, serta faktor keamanan dan infrastruktur di daerah pelosok," ungkap Cindy Diah.

Poin krusial lain yang dibahas adalah pergeseran paradigma mengenai disiplin. Para ahli yang hadir, menekankan bahwa disiplin bukanlah sekadar memberikan hukuman. Beberapa poin utama mengenai pendisiplinan anak meliputi menurut Suzie Maria, M. Ed. EC, selaku Konselor Pendidikan Anak Usia Dini, yakni:

  • Kesadaran Internal: Disiplin bertujuan mendidik anak memiliki kesadaran dari dalam diri, bukan karena takut dihukum.
  • Konsekuensi Logis: Guru dan orang tua diharapkan memberikan konsekuensi yang logis dan konsisten, bukan sekadar larangan tanpa alasan.
  • Literasi Digital: Pendidik tidak boleh anti-teknologi, melainkan harus mampu mengarahkan anak menggunakan gawai secara bijak dengan batasan waktu yang jelas.

Menuju visi Indonesia Emas, kualitas pendidikan sangat bergantung pada hubungan yang baik antara guru, murid, dan orang tua. Menggunakan kerangka Connected Families, anak perlu merasa aman, dikasihi, dan diakui kemampuannya agar mereka berani mengambil tanggung jawab atas keputusannya sendiri.

Karakter kunci yang harus dibangun untuk masa depan adalah ketaatan, rasa hormat, dan integritas. Selain itu, anak-anak Papua didorong untuk berpikir kritis sejak dini guna menemukan talenta unik mereka agar mampu menjadi warga dunia (global citizen) yang kompeten.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....