Ustadz Nurul Yaqin: Ramadan Momentum Pembakaran Dosa dan Jemput Rahmat Allah
- 07 Mar 2026 06:50 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Memasuki hari ke-16 Ramadan 1447 H, umat Muslim diingatkan kembali mengenai esensi mendalam dari bulan suci ini sebagai fase penyucian diri secara total.
Dalam tausiyah "Mutiara Ramadan" jelang Imsak yang disiarkan RRI Wamena pada Jumat (06/03/2026), Ustadz Nurul Yaqin membedah makna filosofis Ramadan sebagai bulan pembakaran dosa dan pelimpahan rahmat.
Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa secara etimologi, Ramadan berakar dari kata ar-ramadh yang berarti panas matahari yang menyengat hingga mampu membakar.
"Ramadan itu artinya adalah pembakaran dosa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kesempatan bagi hamba-Nya yang beriman untuk membakar habis dosa-dosanya melalui amal kebaikan dan ketaatan," ujarnya.
Beliau menekankan bahwa selama 24 jam penuh, pintu Maghfirah (pengampunan) terbuka lebar bagi siapa saja yang berniat tulus untuk bertaubat. "Sangat rugi jika Allah sudah membuka pintu ampunan seluas-luasnya, namun kita tidak mau melangkah untuk bertaubat," tegas sang Ustadz.
Dalam ceramahnya, dipaparkan tiga keistimewaan yang menjadi jaminan bagi orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh:
- Rahmat (Kasih Sayang): Bukti nyata kasih sayang Allah adalah kekuatan yang diberikan kepada setiap hamba, termasuk mereka yang kurang mampu, untuk tetap bisa menjalankan sahur dan buka puasa.
- Maghfirah (Pengampunan): Jaminan ampunan dosa bagi mereka yang menahan hawa nafsu dan mengharap ridho Ilahi.
- Jaminan Surga (Pintu Ar-Rayyan): Ustadz Nurul Yaqin mengingatkan adanya pintu khusus di surga yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa.
Menjelang paruh akhir Ramadan, masyarakat diajak untuk melakukan introspeksi. Ustadz Nurul Yaqin mempertanyakan apakah kualitas ibadah tahun ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.
Menurutnya, indikator keberhasilan Ramadan adalah adanya perubahan perilaku menuju ketaatan. "Jangan sampai puasa kita hanya sekadar menahan lapar, tapi tidak mendekatkan kita kepada Al-Qur'an dan sesama. Ramadan adalah Nur (cahaya) yang seharusnya menerangi jalan kita menuju keberhasilan dunia dan akhirat," pungkasnya.
Menutup tausiyahnya, ia berpesan agar seluruh umat Muslim di Wamena menjadikan sisa Ramadan ini sebagai sarana mencapai ketenangan jiwa dan pikiran yang hanya bisa didapatkan dengan mengharap ridho Allah, bukan pujian manusia.