Tips Menghadapi Perubahan Mood yang Drastis
- 21 Feb 2026 12:52 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Pernahkah Anda merasa lebih mudah tersinggung, lemas, atau bahkan sangat emosional saat sedang berpuasa? Fenomena ini bukan sekadar perasaan Anda saja. Secara medis, perubahan suasana hati atau mood swingselama bulan Ramadan merupakan respons alami tubuh terhadap penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) dan dehidrasi ringan. Ketika otak kekurangan suplai energi utama dari glukosa, kemampuan kita untuk mengontrol emosi dan fokus cenderung menurun, yang seringkali memicu rasa jengkel atau kegelisahan tanpa alasan yang jelas.
Selain faktor biologis, perubahan ritme tidur juga memegang peranan penting dalam stabilitas emosi. Aktivitas sahur yang mengharuskan kita bangun di tengah malam sering kali memotong waktu tidur berkualitas, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan kelelahan kronis. Kondisi kurang tidur ini meningkatkan hormon stres dalam tubuh, sehingga ambang kesabaran seseorang menjadi lebih rendah dari biasanya. Hal inilah yang mendasari mengapa istilah "lapar mata" dan "lapar emosi" seringkali muncul beriringan selama waktu menunggu berbuka atau ngabuburit.
Untuk menyiasati perubahan mood ini, asupan saat sahur menjadi kunci utama yang sering terabaikan. Mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, gandum, atau umbi-umbian sangat disarankan karena mereka melepaskan energi secara perlahan ke dalam darah (slow release). Hindari konsumsi gula berlebih saat sahur karena meskipun memberikan energi instan, gula akan menyebabkan lonjakan dan penurunan kadar gula darah secara drastis (sugar crash), yang justru menjadi pemicu utama munculnya rasa lemas dan bad mood di siang hari.
Manajemen aktivitas fisik dan mental juga tidak kalah penting dalam menjaga kewarasan selama berpuasa. Para psikolog menyarankan untuk melakukan teknik pernapasan dalam atau meditasi ringan saat emosi mulai memuncak di tengah tekanan pekerjaan. Mengalihkan fokus pada hobi yang menenangkan atau sekadar melakukan peregangan ringan dapat membantu melepaskan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda stres alami. Menyadari bahwa perubahan moodadalah proses biologis yang wajar akan membantu kita untuk lebih sadar (mindful) dalam bereaksi terhadap keadaan sekitar.
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar secara fisik, tetapi juga latihan kekuatan mental dan pengendalian diri. Dengan menjaga pola makan yang seimbang, hidrasi yang cukup di malam hari, serta istirahat yang berkualitas, fluktuasi emosi dapat diminimalisir secara signifikan. Menghadapi bulan suci dengan tubuh yang bugar dan hati yang tenang tidak hanya akan membuat ibadah terasa lebih ringan, tetapi juga menjaga hubungan sosial kita tetap harmonis meski sedang berada dalam kondisi perut kosong.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....