Kisah Penculikan Ayah Romario jelang Piala Dunia 1994

  • 13 Jun 2026 05:39 WIB
  •  Wamena
Poin Utama
  • Kisah penculikan ayah Romário

RRI.CO.ID, Rio de Janeiro - Kisah penculikan ayah Romario merupakan salah satu drama nyata paling menegangkan yang mempertemukan dunia sepak bola dengan realitas kriminalitas di Brasil, tepat menjelang perhelatan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Pada tahun 1994, Romario de Souza Faria sedang berada di puncak kariernya. Ia merupakan striker andalan FC Barcelona dan tumpuan utama tim nasional Brasil untuk mengakhiri puasa gelar juara dunia selama 24 tahun. Namun, euforia tersebut mendadak berubah menjadi mimpi buruk.

Pada tanggal 2 Mei 1994, sekitar tujuh minggu sebelum Piala Dunia dimulai, ayah Romario yang bernama Edevair de Souza Faria, diculik. Edevair diculik saat baru saja meninggalkan bar milik keluarganya di kawasan pinggiran Rio de Janeiro, Vila da Penha. Sekelompok pria bersenjata menyergap mobilnya. Penculikan ini dilakukan secara profesional oleh sindikat kriminal yang menyadari nilai finansial tinggi dari status kebintangan Romario di Eropa.

Para penculik menyembunyikan Edevair di sebuah rumah penyekapan (safehouse) di favela (kawasan kumuh) Rio de Janeiro. Mereka kemudian menghubungi keluarga Romario dan menuntut uang tebusan yang sangat besar, yakni senilai 7 juta USD. Mendengar kabar tersebut, Romário langsung terbang kembali ke Brasil dari Spanyol. Di tengah situasi yang kacau dan tekanan psikologis yang luar biasa, Romario mengambil langkah berani dengan memanfaatkan statusnya sebagai "pahlawan nasional" Brasil.

Ultimatum Romario kepada Para Penculik, Romario menggelar konferensi pers darurat yang disiarkan secara nasional. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa jika ayahnya tidak dibebaskan dalam keadaan selamat, ia menolak untuk berangkat dan bermain membela Brasil di Piala Dunia 1994. Pernyataan ini mengguncang seluruh negeri. Bagi masyarakat Brasil, sepak bola adalah agama dan Piala Dunia 1994 adalah harga mati. Kehilangan Romario berarti hilangnya peluang terbesar Brasil untuk menjadi juara dunia.

Ultimatum Romario menciptakan efek domino yang tidak diduga oleh para penculik. Kepolisian Rio de Janeiro membentuk tim khusus dan melakukan tekanan masif ke berbagai wilayah kekuasaan geng. Menurut laporan media setempat, ancaman Romario memicu kemarahan dari para pemimpin kartel narkoba dan bos kriminal besar di Rio de Janeiro. Romário adalah idola masyarakat miskin di favela. Para bos kriminal menyadari bahwa jika Piala Dunia Brasil hancur karena aksi penculikan tersebut, polisi akan mengobrak-abrik seluruh favela tanpa henti, yang mana akan merusak bisnis ilegal mereka.

Dikabarkan bahwa para pemimpin faksi kriminal utama di Rio turut memerintahkan anak buah mereka untuk mencari tahu siapa kelompok amatir yang berani menculik ayah Romário dan merusak harapan bangsa. Akibat tekanan yang datang dari segala penjuru baik dari aparat hukum maupun dari lingkaran dunia hitam sendiri para penculik akhirnya panik. Hanya dalam waktu enam hari setelah penyekapan, tepatnya pada tanggal 8 Mei 1994 (yang kebetulan bertepatan dengan Hari Ibu di Brasil), polisi berhasil melacak lokasi penyekapan di sebuah rumah di wilayah utara Rio de Janeiro setelah menerima ujung informasi (tip) anonim.

Edevair de Souza Faria ditemukan dalam kondisi selamat, sehat, dan tanpa cedera fisik yang berarti. Romario dan keluarganya tidak membayar sepeser pun dari tuntutan $7 juta USD tersebut. Beberapa anggota komplotan penculik berhasil diringkus oleh pihak kepolisian tak lama setelah drama pembebasan. Setelah ayahnya bebas dan aman, beban emosional yang menggelayuti pundak Romario terangkat. Ia kembali bergabung dengan skuad Selecao dengan motivasi yang berlipat ganda.

Di Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat, Romario tampil kesurupan dan menjadi bintang utama turnamen. Ia mencetak 5 gol sepanjang turnamen, Ia memimpin Brasil menembus partai final dan mengalahkan Italia lewat adu penalti. Brasil keluar sebagai Juara Dunia 1994, mengakhiri kutukan 24 tahun. Romario dianugerahi penghargaan Golden Ball (Pemain Terbaik Turnamen) dan pada akhir tahun dinobatkan sebagai FIFA World Player of the Year.

Kisah penculikan ini sering dikenang sebagai salah satu momen di mana sepak bola membuktikan kekuatan kulturalnya yang luar biasa di Brasil, mampu menyatukan hukum dan bahkan menggetarkan nyali dunia kriminal demi satu tujuan trofi Piala Dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....