Karhutla dan Kemarau Ancam Pasokan Sayur dan Buah

  • 17 Sep 2026 19:02 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, Wamena - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan lingkungan, tetapi juga dapat memperbesar tekanan terhadap sektor pertanian. Di tengah musim kemarau yang panjang, pasokan sejumlah sayuran dan buah berpotensi menipis karena produksi tanaman terganggu oleh keterbatasan air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Hingga awal September 2026, terdapat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, sementara pengaruh fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas rata-rata normal atau yang biasa disebut El Niño yang masih sangat kuat membuat kondisi kering berpotensi berlangsung lebih lama.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani hortikultura yang membutuhkan pasokan air secara rutin. Ketika sumber air mulai berkurang, tanaman sayuran dan buah dapat mengalami kekurangan air sehingga pertumbuhan menjadi tidak optimal. Pada kondisi yang lebih parah, tanaman dapat gagal berkembang, tidak menghasilkan bunga atau buah, hingga mengalami gagal panen.

Dampaknya kemudian dapat terlihat pada ketersediaan hasil pertanian. Ketika produksi dari lahan berkurang, jumlah sayuran dan buah yang masuk ke pasar juga berpotensi ikut menurun. Kondisi serupa dilaporkan terjadi di beberapa daerah, di mana persediaan air yang semakin menipis membuat sebagian petani mulai mengurangi minat menanam tanaman hortikultura.

Karhutla turut menjadi persoalan dalam situasi tersebut. Kondisi atmosfer yang kering membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar, sementara kebakaran dapat bertahan lebih lama ketika curah hujan rendah. BMKG menyebut September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla, dengan sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.

Meski demikian, menipisnya pasokan sayuran dan buah tidak bisa semata-mata disebut disebabkan oleh karhutla. Faktor utamanya berkaitan dengan kekeringan dan keterbatasan air yang menghambat produksi tanaman, sedangkan karhutla menjadi bagian dari tekanan lingkungan yang terjadi bersamaan dengan kondisi kering tersebut.

Jika kondisi kemarau dan keterbatasan air berlangsung lebih lama, petani perlu menyesuaikan pola tanam serta menjaga sumber air yang masih tersedia. Masyarakat juga perlu memahami bahwa berkurangnya pasokan hortikultura dapat terjadi ketika proses produksi di tingkat petani terganggu oleh kondisi cuaca dan lingkungan yang tidak mendukung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....