Rahasia Belut Bertahan Hidup Saat Tanah Kering dan Musim Kemarau

  • 13 Agt 2026 21:17 WIB
  •  Wamena
Poin Utama
  • Belut memiliki mekanisme estivasi (hibernasi musim panas) yang memungkinkan mereka bertahan hidup di tanah kering tanpa air dalam waktu cukup lama.
  • Hewan air ini dilengkapi dengan mekanisme pertahanan diri luar biasa yang memungkinkan adaptasi terhadap lingkungan ekstrem saat musim kemarau.
  • Ketahanan belut didasarkan pada kombinasi kemampuan biologis dan perilaku unik yang secara khusus berevolusi untuk menghadapi perubahan musiman.

RRI.CO.ID, Wamena - Belut dikenal sebagai salah satu hewan air yang sangat tangguh. Ketika musim kemarau tiba dan sawah atau kolam tempat tinggalnya mengering hingga retak-retak, belut tidak langsung mati. Hewan licin ini memiliki mekanisme pertahanan diri yang luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem tanpa air dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana belut bisa bertahan hidup di dalam tanah yang kering? Berikut adalah rahasia biologis dan perilaku unik di balik ketahanan belut.

1. Kemampuan Estivasi (Hibernasi Musim Panas)

Saat air mulai surut dan tanah mengering, belut tidak panik. Mereka masuk ke dalam fase yang disebut estivasi, yaitu keadaan torpor atau dormansi (istirahat panjang) yang mirip dengan hibernasi pada hewan berdarah panas di musim dingin.

Selama estivasi, belut secara drastis menurunkan laju metabolisme tubuhnya. Detak jantung dan kebutuhan oksigen melambat secara signifikan, sehingga mereka dapat menghemat energi cadangan dalam tubuh selama berbulan-bulan tanpa makan.

2. Membuat "Kepompong" Lendir (Kokoon)

Untuk mencegah tubuhnya mengalami dehidrasi (kekeringan) di dalam tanah yang panas, belut melakukan trik cerdas, mereka menggali lubang yang lebih dalam ke dalam lumpur basah yang tersisa (bisa mencapai kedalaman 50 cm hingga lebih dari 1 meter). Di dalam liang tersebut, belut mengeluarkan lendir khusus dari kulitnya. Lendir ini mengering di sekeliling tubuhnya dan membentuk lapisan pelindung atau semacam kokoon tipis yang kedap udara. Lapisan ini berfungsi ganda: menjaga kelembapan tubuh belut agar tidak menguap dan melindunginya dari gesekan tanah yang keras.

3. Bernapas Menggunakan Kulit dan Organ Khusus

Biasanya, ikan menggunakan insang untuk mengambil oksigen dari air. Namun, saat tanah kering, insang tentu tidak berfungsi optimal. Belut memiliki kemampuan adaptasi pernapasan yang unik:

  • Kulit belut sangat basah dan kaya akan pembuluh darah kapiler, yang memungkinkannya untuk menyerap oksigen langsung dari udara melalui pori-pori tanah.
  • Belut juga memiliki rongga insang khusus dan modifikasi pada bagian mulut serta faring (tenggorokan) yang berfungsi mirip paru-paru primitif untuk membantu pertukaran udara saat berada di darat atau lumpur kering.

4. Cadangan Lemak sebagai Bahan Bakar

Karena belut tidak mencari makan selama periode estivasi di dalam tanah kering, mereka mengandalkan cadangan energi yang telah disimpan sebelumnya. Sebelum musim kemarau atau saat lumpur mulai menyusut, belut biasanya makan dengan rakus untuk menimbun lemak di dalam tubuhnya. Lemak inilah yang secara perlahan dibakar untuk mempertahankan fungsi organ vital selama mereka tidur panjang di dalam tanah.

5. Kembali Aktif Saat Musim Hujan Tiba

Ketahanan luar biasa ini dapat berlangsung selama berpekan-pekan hingga berbulan-bulan, tergantung pada seberapa dalam mereka bersembunyi dan seberapa lama kemarau berlangsung.

Begitu hujan turun dan air membasahi kembali tanah yang kering, air akan melarutkan kokoon lendir belut. Seketika itu pula belut "bangun" dari tidur panjangnya, keluar dari liang persembunyian, dan kembali aktif berenang serta berburu mangsa di perairan yang tergenang.

Tahukah Anda? Ketahanan hidup belut ini membuat sebagian petani sering kali mengira belut "hilang" atau musnah saat musim kemarau, padahal mereka hanya bersembunyi di bawah lapisan tanah yang retak menunggu datangnya air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....