Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan Kepada Mahasiswa Tolikara

  • 23 Okt 2025 22:35 WIB
  •  Wamena

KBRN, Wamena: Angginak Sepi Wanimbo, seorang pegiat literasi dari Papua Pegunungan, menyalurkan buku-buku bacaan kepada mahasiswa asal Kabupaten Tolikara yang sedang menempuh studi di Jayawijaya, Wamena. Acara penyaluran ini berlangsung di Gereja GIDI Efesus, Kamis (23/10/2025).

Momentum ini dimanfaatkan oleh mahasiswa Tolikara untuk mengadakan kegiatan penerimaan anggota baru sekaligus seminar sehari. Angginak Sepi Wanimbo diundang sebagai narasumber untuk membawakan topik "Ideologi dan Demokrasi di Tanah Papua".

Dalam kesempatan tersebut, Angginak Sepi Wanimbo menyoroti bahwa banyak generasi muda saat ini kurang mempelajari ideologi, sejarah, budaya, dan bahasa sendiri, yang menyebabkan hilangnya identitas. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa, gereja, dan komunitas di Papua untuk terus membuka ruang diskusi.

"Melalui diskusi dan membaca buku, nilai-nilai dan prinsip orang Lani Papua akan tumbuh subur dan sehat," ujarnya.

Angginak juga mengkritik kebiasaan mahasiswa yang sering melakukan copy-paste tugas dari internet. Ia mengajak mereka untuk membiasakan diri mengerjakan tugas dari buku bacaan dan sumber lain, serta meningkatkan budaya membaca.

"Mengambil informasi dari internet hanya akan membuat wawasan kita tidak berkembang dan ilmunya bisa dibilang kadaluarsa. Ilmu dari buku akan membentuk karakter, moral, dan integritas anak Lani yang kuat serta meningkatkan kualitas pengetahuan," tegasnya.

"Hidup ini kita persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan kita berada di luar Tuhan, tetapi selalu di dalam gereja Tuhan, supaya mimpi dan harapan kita menjadi nyata di masa depan," tambahnya.

Sebagai seorang pegiat literasi dan anak Lani, Angginak merasa bertanggung jawab terhadap generasi muda. Ia menyumbangkan sebuah buku karangan Socratez Sofyan Yoman.

Buku ini diharapkan menjadi "sekop dan parang" bagi mahasiswa baru untuk belajar dan mengejar cita-cita. "Dalam buku ini, ada bagian menarik tentang sejarah Papua. Terus tingkatkan semangat membaca agar kita mengenal identitas kita sendiri melalui buku," katanya.

Oleh karena itu, ia mengajak untuk mempelajari sejarah dan budaya melalui buku-buku yang ditulis oleh putra daerah, berkolaborasi dengan buku lain sesuai kebutuhan. "Pengetahuan orang Lani Papua ada di honai. Generasi penerus gereja dan bangsa harus menempatkan diri dengan orang tua di honai untuk menggali ilmu yang Tuhan berikan, agar kita tetap merawat, memelihara, memupuk, dan mempertahankannya untuk masa depan," ujarnya.

"Jika kita tidak menempatkan diri dengan orang tua di honai, kita akan kehilangan jati diri sebagai anak Lani Papua. Maka, budayakan mengambil waktu bersama moyang kita di dusun masing-masing," lanjutnya.

Angginak juga menyinggung tantangan yang datang dari luar, seperti ruang demokrasi yang ditutup dan pengaruh penyakit sosial seperti minuman keras, ganja, rokok, dan seks bebas.

"Saat ini, di tanah Papua boleh banyak provinsi dan kabupaten kota, tetapi ingat, orang asli Papua harus tetap kuat dan bersatu untuk menentukan masa depan yang lebih baik. Orang lain tidak bisa mengatur orang Papua, hanya orang Papua sendiri yang bisa mengurus dan mengatur diri untuk hidup damai," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....