Studi Ungkap Kaitan Erat Mukbang dengan Depresi

  • 01 Okt 2025 13:06 WIB
  •  Wamena

KBRN, Korea Selatan: Konten mukbang (siaran makan dalam porsi besar) yang populer, khususnya dari Korea Selatan, kini menjadi sorotan terkait dampaknya pada kesehatan mental.

Sebuah studi cross-sectional terbaru yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi BMC Psychiatry pada Juli 2025 menemukan adanya keterkaitan signifikan antara kebiasaan menonton mukbang dengan frekuensi tinggi dan peningkatan risiko depresi pada orang dewasa Korea Selatan. Hasil penelitian ini perlu menjadi peringatan bagi para penikmat konten tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan dengan judul "Association between mukbang-watching (eating broadcasts) and depression in Korean adults" ini melibatkan total 1.210 orang dewasa berusia 20-64 tahun (rata-rata usia 43,5 tahun) di Korea Selatan. Survei ini dilakukan antara 4 hingga 23 Juli 2024.

Para peserta dikelompokkan berdasarkan frekuensi menonton mukbang: tidak pernah, kurang dari 1 kali/minggu, 1-2 kali/minggu, dan \ge 3 kali/minggu. Penilaian depresi menggunakan alat ukur standar, yaitu Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), dengan skor \ge 10 menunjukkan adanya depresi. Tingkat keparahan depresi diklasifikasikan menjadi minimal (0-4), ringan (5-9), sedang (10-19), dan berat (20-27).

Hasilnya mencengangkan, prevalensi menonton sebanyak 47,5 persen responden dilaporkan menonton mukbang. Prevalensi depresi secara keseluruhan dalam sampel adalah 18,4 persen.

Peserta yang menonton mukbang lebih dari 3 kali per minggu memiliki kemungkinan depresi yang signifikan lebih tinggi (Odds Ratio / OR = 2.848 dengan 95% Confidence Interval: 1.826–4.441) dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah menonton. Ini berarti risiko depresi meningkat hampir tiga kali lipat.

Kelompok yang paling sering menonton juga menunjukkan kemungkinan gejala depresi yang lebih berat secara signifikan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa ada korelasi kuat antara seringnya menonton mukbang dengan gejala depresi. Meskipun studi ini bersifat korelasional (cross-sectional), para ahli menduga bahwa fenomena ini bisa bersifat dua arah:

Faktor Pemicu: Paparan terhadap konten makan berlebihan dapat memicu pikiran negatif terkait citra tubuh atau kebiasaan makan yang tidak sehat, yang kemudian memperburuk kondisi mental.

Mekanisme Koping: Seseorang yang sudah merasa kesepian atau depresi cenderung mencari konten mukbang sebagai pengalih perhatian atau penghibur (mekanisme koping). Ironisnya, semakin sering mereka menonton, kondisi emosional mereka justru bisa memburuk.

Penemuan ini menyoroti pentingnya edukasi kesehatan mental dan pemahaman mengenai dampak buruk konsumsi konten digital berlebihan. Para ahli merekomendasikan intervensi yang tepat bagi individu, terutama mereka yang sudah memiliki gejala depresi, untuk membatasi frekuensi menonton mukbang dan mencari saluran dukungan emosional yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....