Sisi Gelap Self-Reward, saat melepas stres malah jadi boros
- 27 Agt 2026 03:26 WIB
- Wamena
Poin Utama
- Self-reward adalah praktik memberikan apresiasi kepada diri sendiri melalui pembelian barang setelah menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas yang melelahkan, semakin populer di kalangan anak muda Indonesia.
- Revenge spending adalah perilaku pengeluaran berlebihan yang muncul sebagai bentuk 'balas dendam' setelah merasa lelah, tertekan, atau terlalu lama menahan keinginan untuk berbelanja.
- Meskipun belanja memberikan kepuasan sesaat, kebiasaan ini dapat menumpuk menjadi masalah finansial serius dan menambah tekanan psikologis jika dilakukan berulang tanpa kontrol keuangan.
RRI.CO.ID, Wamena - Istilah self-reward semakin lekat dengan gaya hidup anak muda, terutama ketika seseorang ingin memberikan apresiasi kepada diri sendiri setelah melewati pekerjaan atau aktivitas yang melelahkan. Membeli makanan favorit, pakaian, gawai, hingga bepergian kerap dianggap sebagai cara untuk menghilangkan stres. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.
Fenomena ini kemudian berkembang menjadi perilaku yang sering disebut revenge spending, yakni dorongan untuk membelanjakan uang secara berlebihan sebagai bentuk “balas dendam” setelah merasa lelah, tertekan, atau terlalu lama menahan keinginan. Belanja memberikan kepuasan sesaat, tetapi jika dilakukan berulang kali, pengeluaran dapat menumpuk dan justru menambah tekanan finansial.
Perilaku konsumtif tersebut juga dapat dipengaruhi oleh media sosial. Paparan gaya hidup, tren, promosi, hingga pengalaman orang lain dapat menciptakan dorongan untuk ikut membeli atau mencoba sesuatu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya juga mengingatkan bahwa fenomena seperti FOMO, YOLO, doom spending, dan instant gratification dapat mendorong generasi muda ke pola hidup konsumtif.
Di sisi lain, self-reward sebenarnya tidak selalu identik dengan pemborosan. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri tetap dapat dilakukan selama disesuaikan dengan kemampuan finansial. Misalnya, menikmati makanan favorit dengan anggaran tertentu, mengambil waktu untuk beristirahat, berolahraga, berkumpul dengan orang terdekat, atau melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan pengeluaran besar.
OJK juga terus mendorong generasi muda untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan dan tidak mudah terpengaruh tren maupun gaya hidup. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan kelompok usia 18–25 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 73,22 persen, sedangkan kelompok usia 26–35 tahun mencapai 74,04 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kemampuan finansial yang cukup baik pada kelompok usia muda, namun tetap perlu diiringi kebiasaan pengelolaan uang yang sehat.
Karena itu, self-reward sebaiknya tidak berubah menjadi alasan untuk menghabiskan uang setelah hari yang melelahkan. Menghargai diri sendiri bukan berarti harus selalu membeli sesuatu. Dengan membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan pelampiasan emosi, apresiasi terhadap diri dapat tetap dilakukan tanpa mengorbankan kondisi keuangan di kemudian hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....