Bukan Sekadar Tren, Estetika Klasik Jadi Simbol Gaya Hidup Baru
- 09 Jul 2026 22:03 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Di tengah derasnya arus tren yang silih berganti, estetika klasik justru kembali menarik perhatian masyarakat. Gaya yang identik dengan kesederhanaan, keanggunan, dan kualitas ini tidak lagi sekadar menjadi pilihan desain interior, tetapi mulai berkembang sebagai simbol gaya hidup baru yang mengutamakan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan.
Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap konsep classic aesthetic, quiet luxury, hingga old money aesthetic yang ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai platform seperti Pinterest, Instagram, dan TikTok dipenuhi inspirasi rumah bergaya klasik, furnitur kayu berkualitas, hingga dekorasi bernuansa netral yang menciptakan kesan hangat dan elegan. Tren ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai beralih dari gaya yang mengikuti mode sesaat menuju desain yang lebih abadi dan fungsional.
Estetika klasik dikenal mengedepankan keseimbangan, proporsi, dan penggunaan material alami seperti kayu, batu alam, marmer, linen, serta kulit. Berbeda dengan desain yang sarat dekorasi berlebihan, gaya klasik modern lebih menonjolkan kesederhanaan dengan sentuhan elegan yang mampu bertahan melintasi perubahan zaman. Karena sifatnya yang timeless, banyak orang menganggap investasi pada furnitur dan dekorasi klasik lebih bernilai dalam jangka panjang.
Kembalinya tren ini juga tidak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Furnitur berkualitas tinggi umumnya memiliki usia pakai lebih lama sehingga tidak perlu sering diganti. Selain mengurangi limbah, konsep tersebut juga dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan dibanding terus mengikuti tren desain yang cepat berubah.
Tidak hanya pada desain rumah, estetika klasik juga merambah ke berbagai aspek kehidupan. Dunia fashion kembali menghadirkan busana bergaya vintage dengan potongan sederhana namun elegan. Di sisi lain, minat terhadap jam tangan mekanik, kamera analog, piringan hitam (vinyl), hingga buku cetak juga terus meningkat. Menariknya, generasi muda, termasuk Generasi Z, menjadi salah satu kelompok yang turut menghidupkan kembali tren ini. Meski tumbuh di era digital, banyak anak muda justru tertarik pada estetika klasik karena memberikan kesan tenang, autentik, dan berkelas.
Para pengamat desain menilai kebangkitan estetika klasik mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap konsumsi. Jika sebelumnya banyak orang mengejar produk yang sedang viral, kini perhatian mulai bergeser pada barang yang memiliki kualitas, fungsi, dan daya tahan tinggi. Pergeseran ini menjadi sinyal bahwa tren masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh sesuatu yang baru, tetapi juga oleh nilai yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....