Kala Legenda Persib Menenun Mahkota Emas Perdana Persipura di Panggung Nasional
- 01 Okt 2026 05:36 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, JAYAPURA - Sejarah sepak bola Indonesia pada 1970-an menyimpan satu lembar kisah paling magis tatkala panji Papua, yang kala itu masih bernama Irian Jaya mulai berkibar gagah di kancah nasional. Di tengah dominasi klub-klub elite perserikatan, Persipura Jayapura menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik fondasi awal kesuksesan skuad berjuluk Mutiara Hitam tersebut, terdapat sentuhan dingin seorang maestro asal Pasundan, Omo Suratmo.
Omo Suratmo bukanlah nama asing dalam lanskap sepak bola Nusantara. Penyerang tajam Tim Nasional Indonesia era 1957–1961 sekaligus legenda Persib Bandung itu mengambil keputusan berani pada tahun 1976. Ia melepaskan jabatannya sebagai pelatih kepala Maung Bandung demi menerima pinangan terbang jauh ke timur Indonesia untuk menukangi Persipura.
Langkah bersejarah itu diprakarsai oleh manajer Persipura saat itu, Drs. Sugiyanto, yang juga menjabat sebagai Kepala Inspeksi Pajak Irian Jaya. Sugiyanto yang berdarah Sunda menginginkan sosok juru taktik yang "sehati" dengannya untuk membesut materi pemain talenta lokal Papua yang melimpah.
"Pak Sugiyanto bilang, 'Oke saya terima tugas itu, tapi harus ikut saya punya mau. Saya pilih pelatih dari Bandung.' Karena dia sangat hobi sepak bola dan kenal Omo Suratmo, jadi biar bisa sehati," kenang mantan penggawa Persipura, Benny Jensenem.
Omo mewarisi skuad bertabur bakat alam luar biasa, mulai dari Hengky Heipon, Johanes Auri, Edi Sabenan, Yafet Sibi, Benny Jensenem, Jimmy Pieter, Pieter Attiamuna, Allo Tortet, Marthen Jopari, Jakobus Mobilala, Timo Kapisa, hingga Nico Pattipeme. Berkat keberhasilan finis di posisi empat besar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI 1975, Persipura berhak mengunci satu tiket di ajang bergengsi Piala Presiden Soeharto III tahun 1976 di Jakarta.
Jalan Berduri Menuju Senayan
Turnamen yang mempertemukan lima kekuatan utama sepak bola nasional kala itu, Persipura, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSMS Medan, dan PSM Ujung Pandang, menjadi panggung pembuktian mentalitas Mutiara Hitam.
Perjalanan Persipura merangkak naik penuh drama. Pada 9 April 1976, langkah awal Persipura langsung diuji oleh raksasa ibu kota, Persija Jakarta, di mana Mutiara Hitam sempat mencetak gol lewat aksi Jacobus Mobilala (21'), namun Persija mampu membalikkan keadaan melalui gol-gol Risdianto (32') dan Andi Lala (34'), membuat Persipura harus mengakui keunggulan Persija dengan skor tipis 1-2.
Bola terus berputar, Persipura selanjutnya menghadapi perlawanan sengit Persebaya Surabaya pada 11 April 1976 dalam pertandingan sarat gol, di mana Persebaya sempat memimpin lewat Waskito dan Hartono, namun Persipura memberikan perlawanan tangguh melalui gol Nico Pattipeme (15') dan Jacobus Mobilala (55'). Laga berakhir imbang 2-2.
Ujian selanjutnya hadir pada 15 April 1976, menghadapi juara bertahan PSM Ujung Pandang. Persipura nyaris tersandung setelah tertinggal lebih dulu oleh gol cepat Abdi Tunggal (15'), sebelum racikan strategi Omo Suratmo di paruh babak kedua membuahkan hasil mengejutkan melalui gol penyama Timo Kapisa dan gol kemenangan Pieter Attiamuna (89'). Membawa Persipura menang 2-1.
Tibalah laga penentuan tersaji pada 17 April 1976 kala itu kontra PSMS Medan. Aksi pertarungan lapangan hijau diwarnai insiden ketika laga terpaksa dihentikan pada menit ke-26 saat kedudukan imbang 1-1, setelah gol Parlin Siagian dibalas Persipura.
Aksi protes keras PSMS terhadap keputusan wasit, panitia memutuskan menganugerahkan kemenangan WO bagi Persipura dengan skor telak 6-1, berdasarkan akumulasi sanksi administratif turnamen.
Hasil tersebut mengantarkan Persipura melaju ke partai puncak sebagai runner-up grup di bawah Persija Jakarta.
Malam Puncak dan Warisan Abadi
Partai final pada 19 April 1976 di Stadion Utama Senayan menjadi laga paling dramatis. Ditekan puluhan ribu suporter tuan rumah, anak-asuh Omo Suratmo tampil tanpa rasa gentar menghadapi Macan Kemayoran yang dihuni bintang Timnas seperti Iswadi Idris dan Risdianto.
Strategi serangan-serangan kilat yang dirancang Omo melumpuhkan lini pertahanan Persija. Mutiara Hitam memberondong tiga gol di babak pertama lewat Nico Pattipeme (11'), Jacobus Mobilala (27'), dan Pieter Attiamuna (31'). Persija sempat menempel ketat hingga skor menipis 3-2 di paruh waktu.
Pada babak kedua, Timo Kapisa memperlebar jarak pada menit ke-67. Gol penutup Iswadi Idris di menit ke-90 tak mampu membendung takdir Persipura mengunci kemenangan 4-3, sekaligus memboyong trofi juara nasional untuk pertama kalinya ke tanah Papua.
"Iya, Omo Suratmo yang latih Persipura waktu itu. Persipura sukses menjadi juara Piala Soeharto III yang digelar tahun 1976," tegas jurnalis olahraga senior Papua, Dominggus Mampioper.
Kemenangan bersejarah itu tidak hanya membuahkan bonus berupa uang tunai Rp5 juta dari Presiden Soeharto dan unit sepeda motor bagi 22 pemain, tetapi juga menginspirasi grup musik legendaris Black Brothers untuk mengabadikan momen tersebut ke dalam sebuah lagu ciptaan khusus.
"Tahun 1976 itu kita juara Soeharto Cup. Black Brothers langsung ciptakan lagu. Saya diajak oleh manajernya, Andy Ayamiseba ke Ancol. Mereka ciptakan lagu Persipura itu," kenang Yafet.
Meski usai turnamen tersebut Omo Suratmo melanjutkan kariernya ke Kalimantan, fondasi yang diletakkannya di Jayapura telah mengubah reputasi Persipura dari tim daerah menjadi raksasa yang disegani. Tangan dingin sang legenda Persib berhasil melahirkan generasi emas Papua yang kelak meredam panggung sepak bola nasional. (Sumber: website resmi Persipura)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....