Mengintip Sinergi Sekolah Formal dan Sekolah Adat Hugulama di Jayawijaya

  • 09 Agt 2026 20:09 WIB
  •  Wamena

RRI.CO,ID, Wamena - Kabut tebal kerap menyelimuti bukit-bukit terjal di Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya. Di balik keindahan lanskap Papua Pegunungan yang megah, tersimpan perjuangan sunyi anak-anak Kampung Yogonima. Selama bertahun-tahun, mereka harus menantang maut—berjalan kaki berkilo kilo meter menembus medan berbukit, lembah curam, dan menyeberangi sungai—hanya demi mencicipi bangku sekolah dasar.

Namun, tantangan geografis itu mulai menemui titik terang. Hari Minggu, 2 Agustus 2026, menjadi lembaran sejarah baru yang mengharukan bagi masyarakat Hugula. Di bawah langit Yogonima, ritual pemberkatan sakral digelar untuk menandai berdirinya dua tiang penopang masa depan anak-anak setempat yakni Sekolah Adat Hugulama dan Sekolah Jarak Jauh SD YPPK Santo Don Bosco Pugima Wilayah Itlay Hisage.

Momen ini bukan sekadar seremonial peresmian gedung. Ini adalah gerakan perlawanan terhadap keterbatasan akses pendidikan, sekaligus benteng pertahanan bagi kelestarian nilai adat yang kian tergerus zaman.

Pendidikan Kolaborasi, Akar Kebudayaan dan Sekolah Formal

Sekolah adat Hugulama dan sekolah jarak jauh di Distrik Itlay Hisage (RRI/Dok. Pengurus sekolah)

Lahirnya dua lembaga ini membawa konsep unik yang saling melengkapi. Sekolah Jarak Jauh SD YPPK Santo Don Bosco Pugima bergerak di jalur formal. Secara administratif, seluruh data siswa terintegrasi langsung dengan sekolah induk di Pugima, memastikan legalitas hukum dan masa depan jenjang akademik anak-anak diakui oleh negara.

Di sisi lain, berdiri Sekolah Adat Hugulama. Sebagai lembaga independen yang bergerak di ranah informal dan nonformal, sekolah adat ini mengemban misi sakral: merawat identitas. Di sini, anak-anak Hugula tidak diajar untuk melupakan asal-usulnya. Mereka dididik tentang bahasa daerah, sejarah suku, sistem kepemimpinan tradisional, kearifan lokal, serta pembentukan karakter berbasis nilai leluhur.

"Kedua lembaga ini memiliki kedudukan berbeda, namun saling melengkapi. Sekolah Jarak Jauh menyelenggarakan pendidikan formal sesuai kurikulum nasional, sedangkan Sekolah Adat Hugulama memperkuat identitas budaya dan pengetahuan lokal," ujar Soleman Itlay (Ketua) dan Manu Hisage (Sekretaris) selaku Tim Kerja dalam keterangan tertulisnya.

Kolaborasi ini menjadi bukti nyata di tanah Papua bahwa modernisasi pendidikan tidak harus menumbangkan pohon kebudayaan asli masyarakat adat.

Beratap Alang-alang, Dibangun dengan Air Mata dan Swadaya

Perjalanan mewujudkan sekolah ini tidaklah instan. Di tengah minimnya sentuhan fasilitas dari pusat kota, masyarakat Kampung Yogonima memilih tidak berpangku tangan. Mereka mengumpulkan kayu buah dari hutan dan merajut ilalang untuk membangun ruang kelas darurat secara swadaya.

Kepala Distrik Itlay Hisage, Marius Hisage, mengungkapkan rasa haru atas kepedulian masyarakat dalam menyambut pendidikan wi wilayah itu. Paslanya pembangunan sekolah itu dilakukan secara swadaya masyyarakat.

"Pembangunan awal sekolah ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dengan memanfaatkan kayu buah dan beratap alang-alang. Kami berharap Pemerintah Daerah Jayawijaya dapat hadir membantu memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar tetap," ungkap Marius saat pemberkatan

Untuk sementara waktu, kegiatan belajar mengajar akan ditopang oleh para guru senior YPPK dan pemuda lokal yang tergerak menjadi relawan. Mereka mengajar tanpa pamrih, menyumbangkan keringat dan waktu demi melihat anak-anak kampung bisa membaca.

Menjawab Tantangan Calistung dan Stategi Penugasan Guru

Pemberkatan sekolah adat Hugulama dan sekolah jarak jauh di Distrik Itlay Hisage (RRI/Dok. Pengurus sekolah)

Potensi anak usia sekolah di wilayah ini sebenarnya sangat besar, mencapai 4 hingga 5 rombongan belajar (rombel). Kenyataan bahwa banyak dari mereka yang belum pernah tersentuh pendidikan formal memicu keprihatinan mendalam bagi Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK).

Direktur Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kabupaten Jayawijaya, Edison Mario Wantik, menegaskan bahwa langkah konkret harus segera diambil tanpa perlu menunggu fasilitas mewah. Pada Tahun Ajaran 2026/2027 ini, YPPK resmi membuka 3 kelas jarak jauh di Yogonima.

"Kami memulai tahap awal pada tahun ajaran ini dengan 3 kelas yang berfokus pada materi dasar calistung (baca, tulis, dan hitung)," kata Edison.

Untuk mengatasi kelangkaan guru, YPPK tengah merancang skema darurat berupa penambahan 2 hingga 3 tenaga pengajar di sekolah induk Pugima yang nantinya dikirim ke wilayah jarak jauh secara bergilir (rolling system), sembari menunggu rekrutmen guru baru.

Edison juga mengetuk pintu birokrasi, meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya untuk lebih progresif dan terbuka mendukung YPPK sebagai mitra strategis. "Ini penting agar anak-anak tidak hanya memperoleh pendidikan adat, tetapi juga memiliki jenjang pendidikan formal yang jelas hingga ke tingkat SMP dan SMA di Kota Wamena." Harapnya.

Merajut Sayap ke Depan

Meski baru saja diberkati, gaung Sekolah Adat Hugulama sebenarnya telah mengakar. Saat ini, mereka telah mengantongi izin operasional Pusat Perkembangan Belajar Masyarakat (PKBM) dari Dinas Pendidikan Jayawijaya, dengan total 6 titik sekolah adat yang tersebar di Distrik Itlay Hisage, Walelagama, dan Siep Kosi. Dukungan juga mengalir dari keuskupan melalui Komisi Sosial dan Budaya Keuskupan Jayapura yang siap berkolaborasi memperkuat benteng budaya ini.

Momentum pemberkatan pada awal Agustus ini menjadi lonceng pengingat bagi semua pihak: gereja, pemerintah, yayasan, tokoh adat, hingga orang tua. Masa depan Papua tidak bisa dibangun sendirian.

Dari sebuah gubuk beratap alang-alang di sudut Itlay Hisage, sebuah peradaban baru sedang ditenun. Impiannya besar: melahirkan generasi Hugula yang cerdas secara akademik, teguh dalam iman, namun tetap memeluk erat tanah dan budaya leluhurnya (*).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....