Pelita Harapan Anak-anak di Pelosok Negeri
- 14 Okt 2025 13:14 WIB
- Wamena
KBRN, Wamena: Guru Adalah pelita yang tetap menyala, bahkan di Tengah gelapnya ancaman. Itulah sebutan bagi guru yang mau mengabdi di pedalaman Papua. Di tempat dimana nyawa yang menjadi taruhannya dan harga kebutuhan pokok yang tinggi sering membuat banyak orang enggan untuk mengabdi di pedalaman Papua. Hal itu tidak mempengaruhi tekad seorang guru yang ingin mengabdi di Papua. Beliau Adalah bapak guru Edi Siregar M.Pd, seorang Guru yang sudah bergelar Pasca Sarjana Magister terpanggil untuk mengabdi di Sekolah Dasar dipedalaman Papua tepatnya di SD Negeri Wobarek kampung Eragama Distrik Kurulu kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan. Yang menempuh perjalanan kaki sejauh 5 Km setiap hari melalui jalan yang licin untuk mengajar.
”Dulu saya mengajar di Sekolah Internasional. Tetapi saya merasa tidak puas dengan itu. Ketika melihat sebuah video tentang sekolah di Papua, bahwa Pendidikan di Papua sangat membutuhkan guru. Walaupun saat itu banyak pihak yang tidak mengijinkan saya ke Papua termasuk Orang Tua. Tidak setuju karena tempat yang akan di tuju adalah tempat yang berbahaya. Saat itu saya bergumul dan akhirnya saya putuskan bahwa panggilan jiwa untuk mengajar ada di Papua,” katanya.
Dengan berbekal ilmu dan Kata “Mengabdi” sampailah di SD Negeri Wobarek. Saat itu, anak murid pertama kali sebanyak 60 siswa tetapi tidak aktif dan banyak yang belum bisa membaca, yang memakai seragam sekolah hanya sedikit, mereka tidak memakai sepatu . Sambil menangis, bapak Guru Edi menceritakan keadaan sekolah itu. Sejak saat itu, bapak guru Edi berusaha untuk memajukan sekolah tersebut.
“Dalam hati saya bilang Edi kamu kesini untuk mengubah sekolah ini. Kalau kamu ke sini keadaannya sudah baik baik saja semua, sudah sempurna untuk apa lagi kesini, justru situasinya begini maka kamu di suruh datang ke sini untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik,” lirihnya.
Masalah keamanan, jangan di ragukan lagi, Sudah berapa kali di begal. Sebuah motor harta satu-satunya di ambil, sampai terkena luka parang di tubuh namun bapak guru edi Ikhlas, tidak putus asa untuk sekolah itu,karena luka yang beliau rasakan tidak sebanding dengan masa depan anak didiknya. Beliau percaya segala sesuatu akan di cukupkan jika dia mengabdi dengan tulus. Selama mengabdi di sana, berbaur dengan masyarakat,lambat laun masyarakat percaya dan mulai mengubah pemahaman terhadap Pendidikan kalau sekolah itu sangat penting yang akhirnya sekarang kurang lebih 90 persen anak anak di daerah itu sudah sekolah.

Bapak Guru Edi saat memimpin Ibadah di halaman sekolah SD Negeri Wobarek.(Foto/RRI: Tanty)
Menjadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Bapak guru Edi Siregar M Pd. Seorang guru yang berjuang untuk mencetak generasi penerus yang mampu membawa perubahan, tidak hanya sebatas mengajar materi Pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan memberikan inspirasi kepada anak murid. Bukan hanya anak murid, sering juga menjadi tumpuan dan inspirasi bagi Masyarakat di daerah tersebut. Beliau seorang guru yang tidak pernah Lelah mengajar, berkreasi dan mencari cara agar anak anak tetap termotivasi untuk belajar. “Saya tidak pernah melihat mereka bahwa mereka tidak mampu ,saya yakin masa depan anak di papua ini jika mereka sekolah maka mereka akan membangun papua, dan yang paling utama Adalah Pendidikan. Dan harus lebih baik kehidupannya dari orangtua. Saya hanya ingin hidup saya berdampak kepada orang lain. Jika saya mengajar terlebih kepada anak yang membutuhkan Pendidikan saya, maka saya akan memberikan itu kepada anak anak papua dengan tulus. Saya bukan guru yang pernah memukul anak, jika sudah marah, emosi, saya keluar melihat pohon, gunung dan akhirnya bisa mengajar lagi. Saya berharap anak anak ini sekolah sampai selesai jangan langsung menikah dan harus menggapai mimpinya karena anak itu penerus orangtua, serta mengubah pemikiran mereka bahwa anak itu harus lebih tinggi dari orangtua. Dan harus lebih baik kehidupannya dari orangtua . saya ingin melihat mereka menjadi generasi harapan bangsa papua di tanah ini,".

Bapak Guru Edy bersama anak Murid belajar membuat kerajinan tangan dikelas. (Foto/RRI: Tanty)
Prestasi yang sudah di raih sekolah.
Walaupun sekolah ini tidak di perhatikan, di bangun dengan swadaya Masyarakat, berlantai tanah, kekurangan guru ,sering banjir saat hujan, dan berkat dukungan kepala sekolah serta guru guru yang lain di sekolah, akhirnya sekolah SD Negeri Wobarek mendapat penghargaan program Menteri Pendidikan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat seperti bangun pagi,beribadah,berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar,bermasyarakat dan tidur cepat di terapkan di sekolah tersebut dan SD Negeri Wobarek kampung eragama Distrik Kurulu kabupaten jayawijaya provinsi papua pegunungan mendapat juara inspiratif 1.

Saat menerima penghargaan Lomba Potret Cerita Anak di Jakarta.(Foto: Bapak Guru Edy)
Setelah prestasi yang di raih maka sekolah SD negeri Wobarek mendapat Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional. Kepala sekolah Yohannes Lengka mengatakan bahwa dulu sekolah ini di bangun atas swadaya Masyarakat anak anak kami di sini terlantar, dengan keputusan Tokoh Adat , Tokoh Agama, dan Masyarakat akhirnya sekolah ini di bangun.
“Dengan bantuan guru dari luar papua, yang membantu saya mengajar di sini membuat sekolah ini maju. Harapan kami, Pemerintah dan Stakeholder memperhatikan sekolah kami ini supaya menjadi sekolah yang layak sama seperti sekolah lain,” katanya lirih.

Bapak Guru menjelaskan pelajaran kepada anak Murid dengan peralatan sederhana. (Foto/RRI: Tanty).
Bapak guru Edi berpesan bahwa anak itu tidak ada yang bodoh, tetapi karena ada kemauan. Jika ada kemauan maka kalian akan menjadi anak yang sukses. Begitu juga dengan seorang guru. Kalau seorang guru yang sudah di tempatkan di suatu sekolah tetapi tidak mengajar dengan baik, maka guru itu Adalah pencuri masa depan anak anak, harusnya kita guru yang mengajar mereka. Kita yang merampok masa depan anak anak itu yang seharusnya mendidik mereka. Kita seorang guru yang harusnya mendidik anak anak itu, tetapi kita tidak datang mengajar maka hak mereka kita ambil dengan Cuma Cuma. Berikanlah yang terbaik dalam hidupmu sebagai guru. Profesi guru itu bukan profesi yang mudah, sangat tidak mudah, guru itu adalah seorang arsitek jiwa. Jika seorang guru salah Lukis anak muridnya, salah gambar pada anak maka akan merusak gambaran hidupnya. jika kita menyalurkan pengaruh positif maka anak itu akan berperilaku positif juga.
Selamat mengabdi bapak guru Edi Siregar M.Pd, Doa kami menyertaimu. Berharap banyak guru yang seperti engkau walaupun nyawa taruhannya, biarlah Tuhan yang menentukan jalanmu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....