Dari Papan Tulis di Ujung Lembah Baliem
- 13 Okt 2025 10:01 WIB
- Wamena
KBRN, Wamena: Dibalik keheningan Lembah Baliem yang dikelilingi pegunungan hijau, sebuah sekolah berdiri sederhana: SD Negeri Wobarek. Bagi sebagian orang, ini hanyalah sekolah kecil di Kampung Weragama, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Tapi bagi saya, dan guru-guru lainnya, tempat ini adalah ladang pengabdian, di mana setiap langkah kaki menjadi doa, dan setiap huruf yang diajarkan menjadi jembatan harapan.

Saya ingat pertama kali datang ke sini. Jalan setapak, kabut pagi, suara alam yang sunyi, dan sekelompok anak kecil yang berdiri rapi menunggu kami di depan sekolah. Dengan kaki telanjang dan senyum malu-malu, mereka menyambut kami seolah kami membawa dunia. Padahal, yang kami bawa hanya papan tulis portabel, beberapa buku, dan hati yang siap untuk memberi.
Setiap pagi, kami memulai hari bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai teman, pendengar, bahkan orang tua. Kami tahu, sebagian besar anak-anak berjalan berkilo-kilometer dari rumah menuju sekolah. Mereka menapaki tanah yang sama setiap hari tanpa keluhan membawa semangat yang justru menguatkan kami sebagai guru.

Bangunan sekolah kami sederhana. Dinding dari papan, atap seng yang berisik saat hujan turun, dan meja-kursi yang sudah berumur. Tapi di balik semua itu, ada gotong royong masyarakat yang luar biasa. Mereka ikut memperbaiki, bahkan membuat pagar dari kayu yang mereka ambil dari hutan. Kami tidak punya anggaran besar, tapi kami punya solidaritas yang tidak ternilai.

Kami sadar, mengajar di sini bukan hanya soal materi pelajaran. Ini soal memberi kepercayaan pada anak-anak bahwa mereka berharga, bahwa mereka bisa bermimpi tinggi, meski tinggal di daerah yang jauh dari pusat kota. Setiap huruf yang mereka pelajari, setiap kalimat yang mereka baca, adalah bekal untuk masa depan yang lebih baik.

Ada haru saat melihat mereka menulis untuk pertama kalinya. Ada rasa bangga saat mereka bisa menyebutkan nama provinsi tempat mereka tinggal. Dan ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur saat mereka berkata, “Saya ingin jadi guru seperti Bapak dan Ibu.”
SD Negeri Wobarek bukan sekadar tempat belajar, tapi simbol perjuangan. Di sini, kami tidak hanya mengajar, kami juga belajar. Belajar tentang arti sabar, tentang kerja sama, dan tentang keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan, sejauh apapun letaknya.

Inilah cerita kami para guru yang memilih tinggal dan bertahan, bukan karena mudah, tapi karena cinta. Dari lembah yang jauh dari gemerlap kota, kami tetap menyalakan pelita. Karena di Wamena, menjadi guru adalah panggilan jiwa, dan sekolah adalah tempat harapan terus menyala.
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....