BPS: Kekeringan Berpengaruh terhadap Inflasi di Jayawijaya

  • 02 Okt 2026 00:59 WIB
  •  Wamena
Poin Utama
  • Bencana kekeringan di Kabupaten Jayawijaya menyebabkan penurunan produksi komoditas pertanian lokal yang signifikan.
  • Menurunnya produksi pertanian berdampak langsung pada pergerakan harga dan laju inflasi di wilayah Wamena.
  • Kebutuhan masyarakat Wamena kini harus dipasok dari luar daerah dengan biaya distribusi yang jauh lebih tinggi, meningkatkan beban ekonomi konsumen.

RRI.CO.ID, Wamena - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya menyebut bencana kekeringan yang melanda wilayah tersebut turut memengaruhi pergerakan harga dan inflasi di daerah.

Kondisi tersebut terjadi karena menurunnya produksi sejumlah komoditas pertanian lokal. Akibatnya, sebagian kebutuhan masyarakat harus dipasok dari luar Wamena dengan biaya distribusi yang lebih tinggi.

Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya, Arther Purmiasa, mengatakan kekeringan berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino berdampak terhadap produksi pertanian masyarakat.

"Kalau berbicara soal pengaruh bencana kekeringan ini memang berdampak pada inflasi di daerah karena beberapa bahan pertanian lainnya harus didatangkan dari luar Wamena. Tentunya para pedagang akan memperhitungkan biaya angkutan sehingga ketika sampai di pasar, harga akan berubah," kata Arther kepada Cenderawasih Pos di Wamena, Kamis (1/10/2026).

Menurut Arther, terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi inflasi. Namun, di Jayawijaya, salah satu persoalan utama berkaitan dengan ketersediaan pasokan barang untuk memenuhi permintaan pasar.

Berdasarkan pemantauan BPS, harga sejumlah komoditas di Wamena mengalami fluktuasi. Penurunan produksi pertanian akibat kekeringan membuat pasokan dari petani lokal berkurang sehingga kebutuhan pasar harus dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.

"Kita tahu bersama kekeringan ini memicu produksi petani di Jayawijaya menurun, sehingga untuk bahan pertanian harus didatangkan dari luar. Banyak biaya yang harus dikeluarkan, seperti biaya angkutan. Contohnya, barang tiba di pelabuhan kemudian diangkut ke bandara dan selanjutnya diterbangkan lagi," ujarnya.

Arther menjelaskan, berbagai biaya distribusi tersebut menjadi salah satu komponen yang diperhitungkan pedagang dan distributor dalam menentukan harga jual kepada konsumen.

Menurutnya, intervensi pemerintah melalui kebijakan subsidi dapat membantu menekan biaya distribusi dan menjaga stabilitas harga. Sebaliknya, tanpa intervensi, harga jual akan sangat dipengaruhi oleh biaya yang dikeluarkan pedagang atau distributor untuk mendatangkan barang.

"Kalau tidak ada intervensi dari pemerintah, para pedagang dan distributor ini yang akan menentukan harga jual. Tanpa subsidi, apabila mereka menetapkan harga jual sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan, masyarakat tidak bisa berbuat banyak," katanya.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, Arther menyarankan pemerintah meningkatkan produktivitas pertanian lokal. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah pembangunan dan pengembangan sistem irigasi.

Menurutnya, ketersediaan irigasi dapat membantu menjaga pasokan air bagi lahan pertanian, terutama ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan.

"Sebagian besar masyarakat di Jayawijaya bergantung pada pertanian. Saat musim kemarau seperti ini, hasil produksi berkurang atau menurun sehingga otomatis pasokan barang masuk dari luar," pungkas Arther.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....