Strategi Keuangan Untuk Generasi UMR Keluar dari Kemiskinan

  • 04 Okt 2025 11:28 WIB
  •  Wamena

KBRN, Jakarta: Konsultan keuangan ternama dan Founder Zap Finance, Prita Ghozie, membedah secara lugas akar masalah kemiskinan dan memberikan panduan praktis bagi masyarakat berpenghasilan Upah Minimum Regional (UMR) yang ingin mencapai stabilitas finansial. Dalam perbincangan bersama Rory Asyari di kanal YouTube, Prita menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang tidak bisa dilawan, melainkan perangkap yang utamanya disebabkan oleh masalah pola pikir dan literasi.

Menurut Prita, penyebab utama seseorang terperosok atau terjebak dalam kemiskinan adalah kombinasi dari tiga faktor: Low Income, Low Access, dan Low Literacy. "Sebenarnya sih pertama mostly adalah mindset. Mindset-nya ini sebenarnya adalah salah satunya mindset berkata cukup," ujar Prita Ghozie.

Pola pikir "cukup" yang disalahartikan sebagai kepasrahan tanpa usaha (fixed mindset) adalah kunci mengapa banyak orang tetap terpuruk, meskipun akses informasi dan teknologi telah terbuka lebar di era digital.

Bagi pekerja dengan gaji UMR yang terlilit utang dan tidak memiliki tabungan, Prita menyarankan langkah-langkah prioritas ketat untuk mencapai "ceklist keuangan sehat":

  1. Tidak Boleh Minus: Penghasilan minimal harus sama dengan pengeluaran.
  2. Stop Utang Konsumtif: Wajib menghindari pinjaman online (pinjol) dan PayLater. Penggunaan keduanya mengindikasikan hidup di luar batas kemampuan finansial.
  3. Prioritas Pelunasan Utang: Jika memiliki tabungan dan utang, gunakan tabungan untuk melunasi utang non-produktif (pinjol, PayLater) terlebih dahulu. Hal ini karena bunga utang membuat seseorang membayar lebih mahal dari harga seharusnya.
  4. Tingkatkan Kapasitas: Setelah bebas utang, fokus pada penambahan kemampuan (skill) untuk meningkatkan pendapatan, baik melalui kerja lembur atau pekerjaan sampingan yang memanfaatkan keahlian unik.

Prita Ghozie menekankan pentingnya Dana Darurat sebagai pelindung kekayaan, bukan sumber kekayaan itu sendiri. Perhitungan Dana darurat dihitung berdasarkan pengeluaran bulanan, bukan gaji.

Target ideal minimal 3 kali pengeluaran bulanan. Idealnya, dana darurat harus mencapai 12 kali pengeluaran bulanan

Jika dana darurat terpakai, Prita menyarankan untuk bersyukur karena itu berarti investasi dan aset lainnya tidak perlu dicairkan. Untuk mempercepat pengumpulan, ia menyarankan menjual barang-barang mewah atau konsumtif yang tidak esensial.

Mengenai kesiapan menikah, Prita Ghozie menetapkan indikator finansial yang cukup tinggi, terutama di Jakarta. Pasangan yang baru menikah dan ingin memiliki anak, disarankan memiliki total penghasilan gabungan di kisaran Rp 16 juta per bulan untuk menjalani hidup kelas menengah dan harus bebas dari utang konsumtif.

Yang paling penting, Prita mengingatkan pasangan muda untuk mengubah pola pikir bahwa anak adalah amanah (tanggung jawab), bukan investasi masa tua yang wajib membalas budi. Pola pikir yang menjadikan anak sebagai investasi adalah kesalahan fundamental yang dapat diwariskan

Rekomendasi Berita