O Ai Yasuok (Mari Tanam Pohon): Bersama untuk menyelamatkan Kehidupan.
- 04 Mei 2026 14:42 WIB
- Wamena
Banjir sudah menjadi langganan di kota Wamena Provinsi Papua Pegunungan saat musim hujan. Tahun 2025 merupakan banjir terparah sepanjang sejarah di Papua Pegunungan yang mengakibatkan rusaknya lahan pertanian warga. Krisis ini perlu diatasi dengan gerakan kolektif untuk membangkitkan kesadaran berbagai lapisan masyarakat. Sebagai wujud nyata dengan cara menanam pohon. Demikian disampaikan Bapak Buzz Maxey, Pencetus Gerakan Hijaukan lembahku, Saat melaksanakan penanaman pohon di distrik Napua, kabupaten Jayawijaya, Provinsi papua pegunungan pada 2/5/ 2026.
Kegiatan penanaman pohon yang tergabung dalam komunitas Balim Global Training Center (BGTC) dan Sekolah Dasar (SD) Negeri di distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya, bersama SMA Sekolah Papua Harapan (SPH) Sentani dan komunitas Curhat English Club (CEC) .
“Gerakan “Hijaukan Lembahku” dengan motto O Ai Yasuok (bahasa Hubula yang artinya “Mari Kita Tanam Pohon”). Gerakan ini berisi ajakan menanam pohon yang dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Masyarakat diajak melakukan aksi mandiri dan kami selalu membagikan kegiatan kami melalui akun Instagram @hijaukan.lembahku, tambahnya.
Mengawali aksi nyata tersbut, 53 siswa & 12 staf SPH, 45 siswa & 8 guru SD Napua, 16 orang dari BGTC, 40 anggota CEC, dan masyarakat lokal melakukan penanaman sekitar 1.500 bibit pohon pada tanggal 2 Mei 2026 di lahan Baliem Global Training Center. Dimana sebulan sebelum kegiatan, masyarakat sekitar telah berpartisipasi sukarela untuk menyiapkan area penanaman dengan menggemburkan tanah dan mengamankan area dari aktivitas lainnya.
Pada hari H, peserta dibagi menjadi 12 kelompok kerja yang masing-masing berisi siswa, guru, masyarakat lokal, dan anggota CEC. Adapun bibit pohon yang di tanam bersifat endemik (habitat asli di Papua Pegunungan) dan menyuburkan tanah yakni tanaman kasuarina (wilye), aracaria (sin), grafilia robusta (wiip), dan bushofa papuana (pum). Bibit lainnya yaitu pinus, kayu besi, dan pucuk merah.
“Banyak tanaman asli Papua Pegunungan yang menyuburkan tanah mulai hilang, tergantikan oleh tanaman-tanaman luar yang invasif. Untuk menyelamatkan lingkungan, kita perlu mengajarkan pengetahuan botani melalui aksi tanam pohon dan berkebun. Gerakan ini juga berdekatan dengan Hari Bumi Internasional pada 22 April, dan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei. Ini momen yang sangat baik. Mengajar anak menanam pohon itu investasi jangka panjang yang harus menjadi kebiasaan dalam diri setiap orang. Pendidikan harus dirancang untuk menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap alam, ujar Bapak Buzz Maxey.
Di tempat yang sama Agusta Bunai ketua Panitia kegiatan tersebut mengatakan Hutan adalah mama. Hutan adalah sumber kehidupan. O Ai Yasuok merupakan gerakan nyata masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, dengan harapan meningkatkan kesadaran sebanyak mungkin orang untuk menanam pohon dan merawat lingkunga.
“Gerakan organik ini menjadi pengingat pentingnya harmoni antarmakhluk ciptaan Tuhan, baik sesama manusia yang berbeda-beda maupun manusia dengan alam. Tuhan memiliki tujuan dan rencana bagi ciptaan-Nya. Kita telah dipercayai-Nya, maka tugas kita adalah merawatnya untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan kita semua,” tambahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....