Kurang Tidur Bikin Mudah Marah? Sains Ungkap Faktanya
- 28 Sep 2025 07:14 WIB
- Wamena
KBRN, Jakarta: Sering merasa emosi cepat tersulut, mudah marah, atau perubahan mood yang ekstrem? Jangan buru-buru menyalahkan hari yang buruk. Sebuah studi neurosains terbaru menunjukkan bahwa biang keladinya mungkin terletak pada kurang tidur. Bahkan, kekurangan tidur hanya dalam semalam terbukti dapat membuat otak menjadi jauh lebih reaktif terhadap emosi negatif.
Amigdala Melonjak, Kendali Emosi Melemah
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah oleh Yoo, Gujar, Jolesz, & Walker, berjudul “The Role of Sleep in Emotional Brain Function”, mengungkapkan mekanisme biologis di balik fenomena "gampang marah" ini.
Penelitian dengan pemindaian otak menggunakan functional MRI (fMRI) menunjukkan bahwa hanya dengan kurang tidur satu malam, terjadi peningkatan signifikan pada aktivitas amigdala.
Amigdala adalah bagian otak yang dikenal sebagai pusat pemrosesan emosi, terutama yang bersifat negatif seperti ketakutan dan amarah. Dalam kondisi kurang tidur, respons amigdala ketika subjek melihat rangsangan emosional negatif melonjak hingga 60% lebih tinggi dibandingkan setelah tidur yang normal.
Hilangnya 'Rem' Otak
Peningkatan respons amigdala ini diperparah dengan melemahnya koneksi antara amigdala dan korteks prefrontal medial (mPFC). Korteks prefrontal medial bertindak sebagai "rem" atau pengendali emosi yang berfungsi meredam atau meregulasi reaksi emosional dari amigdala.
Menurut Dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, MSc, kurang tidur dapat menyebabkan rasa frustrasi dan mudah marah, serta menurunkan kemampuan untuk menghadapi situasi yang memicu rasa frustrasi (KlikDokter). Penurunan konektivitas ini secara efektif melumpuhkan kemampuan otak untuk menenangkan diri sendiri.
Akibatnya, reaksi terhadap stres menjadi berlebihan, membuat seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, mudah depresi, dan mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, bahkan pada hal-hal kecil yang seharusnya tidak dipermasalahkan (Hello Sehat).
Dampak Jangka Pendek dan Panjang Kurang Tidur
Kondisi emosional yang labil ini adalah salah satu dampak paling cepat yang dirasakan akibat kurang tidur. Selain itu, berdasarkan temuan yang dirangkum oleh Halodoc, kurang tidur juga meningkatkan produksi hormon kortisol (hormon stres), membuat tubuh dan otak lebih sensitif terhadap pemicu stres, dan bisa memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada seperti depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar.
Sebuah studi di Journal of Experimental Psychology: General bahkan menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari 5 jam bereaksi marah dari suara mengganggu, yang membuktikan bahwa kurang tidur secara langsung meningkatkan kecenderungan kemarahan.
Solusi: Prioritaskan Tidur Berkualitas
Untuk menjaga kesehatan mental dan stabilitas emosi, para ahli kesehatan menyarankan untuk memprioritaskan tidur berkualitas dengan durasi minimal 7 jam per hari bagi remaja hingga dewasa.
Memastikan waktu tidur yang cukup adalah kunci penting untuk mengembalikan fungsi optimal korteks prefrontal dalam meregulasi emosi. Selain itu, praktik seperti teknik relaksasi, olahraga teratur, dan berkonsultasi dengan profesional dapat membantu mengelola emosi dan memperbaiki kualitas tidur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....