Alat Musik Tradisional Indonesia yang Mulai Langka
- 05 Mei 2026 14:17 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Indonesia adalah gudang suara dunia. Dari sabang sampai Merauke, ribuan instrumen musik lahir dari interaksi manusia dengan alam. Namun, di tengah gempuran musik digital dan standarisasi instrumen global, beberapa suara autentik Nusantara mulai meredup. Bukan sekadar alat musik, instrumen-instrumen ini adalah pembawa pesan sejarah, kosmologi, dan identitas sosial yang kini berada di ambang kepunahan. Dilansir dari berbagai sumber, Berikut adalah beberapa alat musik lokal yang keberadaannya kian langka dan membutuhkan perhatian serius agar tidak hanya menjadi pajangan di museum:
1. Tahuri (Maluku)
Tahuri adalah terompet tradisional yang terbuat dari kulit kerang besar (Triton tritonis). Berasal dari budaya pesisir Maluku, khususnya di wilayah negeri-negeri adat di Ambon dan sekitarnya. Tahuri menghasilkan suara melengking yang sangat kuat. Dahulu, jumlah tiupan Tahuri berfungsi sebagai kode komunikasi antar-desa, misalnya tanda bahaya, panggilan rapat adat, atau penyambutan tamu. Selain berkurangnya peminat yang mampu meniupnya dengan teknik pernapasan perut yang benar, bahan bakunya (kerang besar) kini mulai sulit ditemukan karena kerusakan ekosistem laut dan perlindungan terhadap spesies kerang tertentu.
2. Celempung Bamboo (Jawa Barat)
Meskipun Jawa Barat dikenal dengan Angklung dan Arumba, Celempung bambu memiliki nasib yang lebih sunyi. Alat musik ini termasuk dalam kategori idio-kordofon, di mana dawainya tidak terbuat dari kawat, melainkan dari kulit bambu itu sendiri yang disayat tipis namun tidak putus. Celempung biasanya dimainkan sebagai pengatur ritme (seperti kendang) dalam ansambel kecil di pedesaan untuk mengiringi hiburan rakyat pasca-panen. Kerumitan dalam pembuatan di mana pengrajin harus memiliki kepekaan rasa untuk menentukan tebal sayatan bambu agar menghasilkan nada yang pas—membuat generasi muda lebih memilih instrumen yang sudah dipabrikasi.
3. Foy Doa (Flores, NTT)
Berasal dari Kabupaten Ngada, Flores, Foy Doa secara harfiah berarti "suling ganda". Alat ini unik karena terdiri dari dua atau lebih batang suling bambu kecil yang digandengkan menjadi satu. Biasanya dimainkan oleh para pemuda saat berkumpul di malam hari atau dalam permainan rakyat. Nada yang dihasilkan bersifat pentatonis dan memiliki kesan magis serta menenangkan. Kurangnya dokumentasi notasi musik asli Foy Doa dan minimnya regenerasi pemain musik di desa-desa terpencil membuat instrumen ini jarang terdengar di panggung nasional maupun internasional.
4. Kuriding (Kalimantan Selatan)
Kuriding adalah alat musik kecil dari suku Banjar dan Dayak yang terbuat dari pelepah pohon enau atau bambu. Alat ini dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir, lalu talinya ditarik untuk menggetarkan lidah kayu di tengahnya (mirip dengan Jew's Harp). Dahulu, Kuriding dipercaya sebagai alat pengusir binatang buas di hutan. Getaran suaranya dianggap bisa menakuti roh-roh jahat. Pembuatan Kuriding memerlukan ketelitian luar biasa. Jika sayatannya terlalu dalam, alat akan patah; jika terlalu tipis, suaranya tidak keluar. Saat ini, hanya segelintir maestro tua di Kalimantan Selatan yang masih aktif membuat dan memainkannya.
Mengapa Mereka Terancam Punah?
Banyak alat musik tradisional menggunakan tangga nada non-diatonis (seperti pelog atau slendro yang spesifik). Industri musik modern yang berbasis pada tangga nada Barat (Do-Re-Mi) membuat alat musik ini sulit dikolaborasikan tanpa modifikasi besar-besaran. Banyak instrumen bergantung pada hasil hutan spesifik seperti bambu jenis tertentu, kayu langka, atau kulit hewan yang kini semakin sulit didapat akibat deforestasi.
Musik tradisional seringkali terikat dengan ritual adat. Ketika ritual tersebut ditinggalkan karena pergeseran budaya atau agama, alat musik pendukungnya pun kehilangan fungsinya.
Langkah Penyelamatan seperti:
1. Memasukkan alat musik ini ke dalam kurikulum pendidikan seni di sekolah-sekolah lokal.
2. Mendorong musisi kontemporer untuk bereksperimen dengan suara-suara langka ini dalam genre pop, jazz, atau elektronik.
3. Memberikan insentif atau menciptakan pasar bagi para pengrajin instrumen agar keahlian mereka dapat diturunkan ke generasi berikutnya.
Suara alat musik tradisional adalah detak jantung kebudayaan kita. Jika ia berhenti berbunyi, maka ada satu bagian dari identitas kita sebagai bangsa yang ikut mati. Menjaga alat musik langka bukan berarti kita menolak modernitas, melainkan memastikan bahwa dalam perjalanan menuju masa depan, kita tidak kehilangan suara asli yang mendefinisikan siapa kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....