Sutami: Kisah Menteri Termiskin yang Membangun Megaproyek Indonesia

  • 21 Jun 2026 16:34 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, Wamena - Nama Sutami mungkin tidak sepopuler tokoh politik besar lainnya dalam sejarah Indonesia, namun warisannya berupa infrastruktur raksasa tegak berdiri hingga hari ini. Beliau adalah menteri legendaris yang dikenal sebagai Menteri Termiskin sepanjang sejarah Republik Indonesia karena kejujuran, kesederhanaan, dan integritasnya yang luar biasa. Sutami lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 19 Oktober 1928. Sejak muda, ia sudah menunjukkan ketertarikan dan kecerdasan luar biasa di bidang teknik sipil. Ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berhasil lulus sebagai insinyur. Kemampuan teknisnya yang brilian di bidang konstruksi beton membuatnya cepat dikenal, hingga akhirnya menarik perhatian Presiden Soekarno.

Sutami memiliki rekor yang sulit tertandingi, beliau menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum (PU) selama 14 tahun (1965–1978). Hebatnya lagi, ia dipercaya oleh dua presiden dengan ideologi dan gaya kepemimpinan yang bertolak belakang, yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Bagi kedua presiden tersebut, Sutami adalah sosok profesional murni yang tidak bisa disetir oleh kepentingan politik. Ia hanya fokus pada satu hal: membangun Indonesia.

Karya-Karya Monumental Sutami, Di bawah tangan dingin dan pengawasannya, lahir berbagai infrastruktur mahakarya yang kita nikmati hingga sekarang, antara lain:

  • Gedung DPR/MPR RI (Gedung Conefo)
  • Jembatan Ampera di Palembang
  • Waduk Jatiluhur di Jawa Barat
  • Bandara Ngurah Rai di Bali
  • Kubah Masjid Istiqlal (membantu perhitungan struktur)

Meskipun memegang proyek-proyek raksasa bernilai miliaran rupiah, kehidupan pribadi Sutami justru jauh dari kata mewah, bahkan cenderung kekurangan. Kisah kesederhanaannya sering kali membuat orang terenyuh. Saat masih menjabat sebagai menteri, rumah pribadinya di Jakarta kondisinya memprihatinkan. Ketika musim hujan tiba, atap rumahnya bocor di mana-mana. Sutami dan keluarganya sibuk menaruh ember untuk menampung air hujan.

Karena tidak memiliki uang yang cukup setelah pensiun, Sutami pernah terlambat membayar tagihan listrik hingga berujung pada pemutusan aliran listrik ke rumahnya oleh PLN. Ia selalu mengembalikan mobil dinas dan fasilitas negara begitu masa jabatannya selesai. Ia bahkan sering berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum jika tidak dalam urusan dinas. Di akhir hayatnya, Sutami jatuh sakit (liver). Ironisnya, seorang mantan menteri yang membangun rumah sakit dan jalan-jalan megah ini sempat takut ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk berobat. Mengetahui hal ini, Presiden Soeharto akhirnya turun tangan dan memerintahkan pemerintah untuk menanggung seluruh biaya kesehatannya.

Sutami wafat pada 13 November 1980 di Jakarta pada usia 52 tahun. Kesehatannya menurun diduga karena kelelahan fisik dan pikiran akibat terus bekerja keras demi pembangunan negara tanpa memikirkan diri sendiri. Untuk menghormati jasa-jasanya yang luar biasa, nama beliau diabadikan pada beberapa infrastruktur penting di Indonesia, salah satunya adalah Waduk Karangkates di Malang, Jawa Timur, yang kini resmi bernama Waduk Insinyur Sutami.

Kisah hidup Sutami adalah tamparan keras sekaligus teladan nyata bahwa kekuasaan dan jabatan tinggi tidak harus berujung pada kekayaan materi. Beliau membuktikan bahwa warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah harta yang menumpuk, melainkan karya nyata yang bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....